31 C
Kudus
Selasa, Januari 27, 2026

Sapi yang Hidup di TPU Putri Cempo Solo Tak Layak Jadi Hewan Kurban

BETANEWS.ID, SOLO – Siang itu, puluhan sapi tampak bebas berkeliaran di Tempat Pembuangan Umum (TPU) Putri Cempo, Mojosongo, Solo. Sapi-sapi itu mengais makanan bersinggungan dengan orang-orang yang tengah memilah sampah.

Bukan hanya satu atau dua ekor saja, tapi ada puluhan ekor sapi. Sebagian dari sapi itu ada yang menggerombol, tapi ada juga yang berdekatan dengan orang-orang. Karena sudah biasa, sapi-sapi itu tak takut dengan manusia.

Namun, menurut Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DPKPP) Kota Solo, Eko Nugroho Isbandijarsoko, sapi-sapi itu tidak layak dikonsumsi dagingnya, apalagi untuk kurban pada Hari Raya Iduladha.

-Advertisement-

Baca juga: DKPP Solo Temukan Hewan Kurban Terkena Penyakit Kulit dan Belum Cukup Umur

Eko mengatakan, sapi-sapi itu setiap hari memakan sampah yang akibatnya meninggalkan zat-zat residu di daging sapi. Oleh sebab itu, sapi-sapi tersebut tidak layak jadi hewan kurban, karena terindikasi memiliki residu logam berat dan timbal.

“Tapi kalau dikonsumsi kan tidak secara langsung memberikan bahaya pada manusia, tapi secara kumulatif. Dan kalau selalu terpapar juga menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan, seperti adanya zat karsinogenik,” jelasnya saat ditemui, Selasa (20/6/2023).

Jikalau ingin mengkonsumi sapi-sapi tersebut, warga perlu mengkarantina terlebih dahulu setidaknya selama kurang lebih tiga bulan. Kendati demikian, dalam jangka waktu tersebut tidak dapat menghilangkan zat residu yang ada di tubuh sapi.

“Ya sejauh ini sih belum bisa (menghilangkan residu), karena kalau sudah masuk (termakan) kan biasanya sudah mengendap dan tidak bisa hilang,” paparnya.

Baca juga: Jelang Iduladha, Seratusan Sapi di Pusat Hewan Kurban M9 Solo Sudah Ludes Terjual

Dalam masa karantina, lanjut Eko, sapi-sapi akan harus makan selayaknya sapi ternak pada umumnya, meski upaya itu juga bukan hal yang mudah.

“Agak sulit juga sih mengubah kebiasaan makan itu, harus sedikit-sedikit. Misalkan persentasenya sampai berkurang sampai 100 persen berubah jadi pakan biasa,” katanya.

Berdasarkan data dari DPKPP, sapi-sapi yang hidup di TPU Putri Cempo saat ini kurang lebih 200-an ekor. Meski masih ada banyak yang berkeliaran bebas, tapi saat ini sebagian pemilik sudah mengandangkan sapi-sapinya.

“Kan sekarang juga mau alih fungsi jadi PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Nah, itu kan sekarang sudah ada upaya untuk mengandangkan sapi-sapi itu,” tandas Eko.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER