BETANEWS.ID, JEPARA – Pembeli terlihat datang silih berganti ke sebuah gerobak kecil bertuliskan Es Dawet Pandan Wangi di Jalur Alternatif Welahan-Mayong menuju Kudus atau tepatnya di samping PKU Muhammadiyah Mayong. Letaknya yang cukup strategis memang menjadikan outlet itu selalu ramai pembeli.
Buka mulai pukul 8.00 WIB, dan jika cuaca sedang terik, dengan cepat es dawet tersebut segera ludes terjual. Bahkan, banyak juga para pembeli yang harus kecewa karena sudah habis.
Penjual Es Dawet Pandan Wangi, Ahmad Mahfudz (42), bercerita, saat pagi hari ketika baru mulai berjalan sudah ada para pembeli yang datang mengantre. Padahal, kondisinya masih pagi hari, saat matahari belum begitu terik.
Baca juga: Segarnya Es Dawet Ayu Durian di Tembiring Demak yang Harganya Cuma Segini
“Sampai sini kan 7.30 WIB, beres-beres dulu nata gerobak itu aja udah ada pembeli yang nungguin. Sampai bingung kadang saya melayaninya karena memang baru dasaran (siap-siap),” ujar warga Desa Ujung Pandan, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara itu, Jumat (2/6/2023).
Setiap harinya, Mahfudz mengaku mampu menjual sekitar 100 porsi es dawet. Saat cuaca sedang terik, ia biasanya bisa menghabiskan 4 kilogram dawet dalam sehari. Jumlah tersebut tentu menyesuaikan dengan cuaca. Saat musim hujan ia hanya menghabiskan 2-2,5 kilogram dawet.
Mahfudz memproduksi sendiri dawet jualannya. Hal ini karena jika membeli dawet yang sudah ada di pasaran, rasanya kurang begitu enak. Setiap pukul 3.00 WIB, Mahfudz bersama sang istri sudah mulai bekerja membuat dawet.
“Kalau biasanya bikinnya itu kan dari pati kanji, kalo ini kita bikin dari pati aren. Soalnya rasanya beda, lebih enak pati aren, jadi lebih kenyal. Gulanya juga kita pake gula aren, soale kalau pake tambahan pemanis pembeli pada nggak suka,” cerita Mahfudz.
Baca juga: Es Doger di Taman Kali Tuntang Ini Jadi Jujugan Pencari Kesegaran Dari Panasnya Demak
Menu dawet yang ia tawarkan juga beragam. Mulai dari tambahan tape, cincau hitam, nangka, alpukat, atau durian. Selain tape dan cincau hitam karena sulit didapatkan, toping tersebut biasanya hanya ada saat musim tertentu.
Harga satu porsi dawet jualannya juga terbilang murah. Untuk yang orisinal tanpa tambahan toping hanya Rp5 ribu per porsi. Sedangkan jika ditambah tape atau cincau hitam, Rp6 ribu per porsi. Tambahan nangka Rp7 ribu per porsi, alpukat Rp 10 ribu per porsi, dan durian 14 ribu per porsi.
“Kalau topingya mau mix bisa, nanti harga tinggal menyesuaikan,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

