BETANEWS.ID, JEPARA – Dari arah Kudus menuju jalan Alternatif Mayong-Welahan, tepatnya di samping PKU Muhammadiyah Mayong, tampak beberapa pembeli begitu ramai di depan gerobak bertuliskan “Es Dawet Pandan Wangi”.
Dengan harganya yang terbilang murah, mulai dari Rp5 ribu per porsi, Ahmad Mahfudz (43) penjual es dawet tersebut mampu menjual 100 porsi es dawet dalam sehari. Bagi dia, outlet tersebut merupakan hasil dari jerih payahnya yang tak mau putus asa saat usaha sebelumnya gagal total.
Ia bercerita bahwa sebelum merintis usaha tersebut, dulunya ia merantau ke Jakarta berjualan makanan di kantin Sekolah. 20 tahun di Jakarta sejak 2000, adanya pandemi Covid membuat Mahfudz harus kembali ke Jepara.
Baca juga: Gagal di Usaha Sebelumnya Jadi Pemantik Semangat Udin Bangkit Rintis Bisnis Pentol Kuah Tetelan
Sempat kembali lagi ke Jakarta, Mahfudz mencoba untuk berganti profesi menjual es buah. Berjualan di enam titik berbeda tetapi hasilnya banyak yang tidak laku, Mahfudz lantas memutuskan untuk menetap di Jepara dan mulai merintis jualan es dawet.
“Ini dawetnya bikin sendiri, prosesnya juga lama tidak langsung jadi. Dulu belajar dari teman, bikin, terus dikasih ke tetangga. Kurang enak bikin lagi, sampai ada yang bilang rasanya sudah lumayan, dan disuruh untuk jualan aja,” kata Mahfudz pada Betanews.id, Jumat (2/6/2023).
Selain proses pembuatan dawet yang membutuhkan waktu percobaan sekitar 1,5 bulan, Mahfudz juga bercerita bahwa prosesnya menemukan tempat untuk berjualan juga tidak mudah. Tiga bulan lebih ia mencari ke beberapa daerah untuk menemukan tempat yang cocok.
“Banyak tempat sudah saya datengin, mulai dari Pecangaan, Bugel, Kedung, Sidigede, sampai Mranggen dan Purwodadi, ya pernah. Tapi alhamdulillah malah dapetnya disini (Mayong), lebih deket malahan, yang punya juga enak,” ujar Mahfudz.
Baca juga: Tahun Lalu Rugi Ratusan Juta Karena PMK, Lubis Bersyukur Tahun Ini Sapinya Laku Keras untuk Kurban
Setiap harinya, Mahfudz berjualan sendiri, kecuali hari Jumat – Minggu, istrinya ikut membantu berjualan. Outlet Es Dawet miliknya ia buka mulai dari jam 8.00 WIB sampai jam 15.00 WIB.
“Kalau tutupnya sampai jam 15.00 WIB, cuma kalau siang udah habis, ya udah pulang. Ini tempatnya dipake juga sama yang lain kalau sore, jadinya gantian, saya yang jualannya pagi,” ungkap Mahfudz.
Editor: Ahmad Muhlisin

