31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah dan Dekase Pentaskan “Yang Silam”

BETANEWS.ID, SEMARANG – Dalam Forum Satra, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menggelar pertunjukan swacakap atau monolog berjudul “Yang Silam.” Acara ini digelar di gedung Balai Bahasa yang bertempat di Jalan Diponegoro, Ungaran, Kabupaten Semarang, Kamis (15/6/2023).

Pertunjukan aktor tunggal tersebut digarap oleh Dewan Kesenian Semarang (Dekase) dengan sutradara Alfianto, peramu naskah Widyo ‘Babahe’ Leksono, serta sang aktris Pri Andini.

Sedangkan “Yang Silam” diambil dari naskah cerita pendek (cerpen) berjudul “Magi” karya Adhitia Armitrianto. Cerpen yang belum terbukukan Adhitia tersebut mengambil kisah berlatar belakang seputar peristiwa reformasi ’98. Adhitia menokohkan seorang perempuan aktivis mahasiswa dalam kemasan romantisme.

-Advertisement-

Baca juga: Peringati Hari Musik Sedunia, Dekase Gelar Kongres hingga Konser

“Magi itu bercerita tentang penantian seorang perempuan, dia aktivis mahasiswa yang pacarnya hilang dalam tragedi ’98,” jelas Adhitia yang juga Ketua Dekase itu.

Pertunjukan “Yang Silam” ini dihadiri oleh beberapa komunitas teater sekolah dan kampus. Hadir pula teaterwan senior seperti Daniel Godan, Sarwoto ‘Ndower’, serta Bowo Sulakaino.

Dalam sesi diskusi setelah pementasan, Daniel Godan pun berkesempatan unjuk kebolehan berswacakap.

Sebelumnya, Bramantyo Agus Saputra yang didapuk sebagai moderator diskusi memberi kesempatan kepada para penonton untuk mengomentari swacakap oleh Andini itu. Komentar pun dilontarkan salah satunya oleh Ella yang juga aktivis teater SS Unnes. Ia yang mengaku belum pernah berswacakap menilai garapan Alfianto tersebut menarik dari segi cerita dan penyajiannya.

“Saya tertarik juga dengan backsound lagunya, meskipun hanya rekaman, tidak live,” aku Ella tentang lagu karya Rezky Laksono yang menjadi suara latar.

Baca juga: Pentaskan Monolog Bersama, Teater Jawa Tengah Jalin Silaturasa Tua-Muda

Sementara Alfianto mengaku menggarap “Yang Silam” adalah tantangan tersendiri baginya. Hal itu karena dirinya tidak terbiasa menggarap naskah yang dominan dengan nuansa sunyi. Terlebih ia sendiri harus memoles sang aktris yang merupakan generasi kekinian untuk dapat menghayati perannya sesuai karakter tokoh di masa ’98. Namun demikian, ia mengaku senang menggarap cerita berbasis sejarah tersebut.

“Ya kesulitannya karena aktornya kan anak muda yang referensinya tentang era ’98 minim,” ungkap Alfianto.

Sementara Babahe menyebut swacakap juga ada di seni tradisi yang bernama kentrung. Babahe secara kasuistis pun membandingkan garapan “Yang Silam” dengan kentrung. Menurutnya, dalam pementasan kentrung tidak banyak melibatkan penggarap. Seorang pemain kentrung bisa berswacakap dan bermain iringan musik sendirian.

“Kalau di “Yang Silam” ini kan melibatkan ‘roh-roh’ yang dimunculkan oleh sutradara, peramu naskah, terus ada pengiring musik, dan sebagainya. Di seni kentrung, semua bisa sendirian,” papar Babahe.

Sementara Panitia Forum Sastra Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Kahar DP menjelaskan, tujuan Forum Sastra ini bertujuan memasyarakatkan karya sastra, baik sastra Indonesia maupun sastra daerah. Ia menyebut ada delapan kegiatan berkaitan sastra, termasuk drama.

“Dibagi berdasarkan jagrakataugagrak. Artinya Balai bahasa memperhatikan puisi tapi tidak melupakan drama. Tidak melupakan drama tapi juga mengingat cerita pendek. Artinya semua gagrak karya sastra diperlakukan secara seimbang,” tukasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER