BETANEWS.ID, PATI — Komunitas seni Taring Padi turut memeriahkan Festival Kendeng 2025 yang digelar di Dukuh Misik, Desa Sukolilo, Kabupaten Pati. Dalam festival tersebut, Taring Padi memamerkan sejumlah karya lukis yang merekam potret panjang perjuangan masyarakat melawan kerusakan lingkungan di Pegunungan Kendeng.
Beragam lukisan bertema pelestarian Pegunungan Kendeng terpajang di sejumlah sudut area festival. Salah satu karya yang paling menyita perhatian pengunjung adalah sebuah lukisan raksasa berjudul Kendeng Lestari, Nyawiji Kanggo Ibu Bumi.
Baca Juga: Kudus Bakal Hadirkan Pagelaran Wayang Kulit dengan Dalang Ki Sigid Ariyanto
”Ini potret dari kami apa yang dilakukan sedulur-sedulur Kendeng, JMPPK, Sedulur Sikep dan Wiji Kendeng. Kami mencoba mengilustrasikan aktivitas teman Kendeng. Semangat mereka dalam melestarikan Kendeng,” ujar salah satu seniman Taring Padi, Fitri, Jumat (19/12/2025).
Lukisan berukuran 4×6 meter tersebut menampilkan dua sisi yang kontras. Pada sisi kiri, tergambar wajah Samin Surosentiko dan sejumlah tokoh perjuangan pelestarian Pegunungan Kendeng dengan dominasi warna cerah.
Sementara itu, sisi kanan lukisan menampilkan figur Presiden Joko Widodo dengan busana raja, Ganjar Pranowo, serta sejumlah aparat dalam nuansa warna yang lebih gelap. Di bagian tengah lukisan, tergambar pula aksi cor kaki di depan Istana Presiden yang pernah dilakukan oleh para aktivis Pegunungan Kendeng.
”Sisi kiri adalah kegiatan yang seluruh Kendeng lakukan sementara di sisi kanan yang merusak Pegunungan Kendeng (penambangan dan sebagainya),” ungkapnya.
Fitri menjelaskan, proses pengerjaan lukisan tersebut memakan waktu sekitar tiga hingga empat pekan. Sekitar 10 seniman dan sukarelawan terlibat dalam pembuatan karya yang rampung pada 2023 dan sempat dipamerkan di Australia itu.
Menurut Fitri, pengabadian perjuangan masyarakat Kendeng melalui karya seni membutuhkan proses panjang. Diskusi intensif dilakukan untuk merumuskan konsep, tema, hingga detail-detail kecil yang ditampilkan dalam lukisan.
”Paling lama diskusi. sampai kemudian menemukan konsep, tema hingga detail-detail kecil,” katanya.
Bagi Taring Padi, proses kreatif tersebut menjadi bagian dari perjalanan belajar bersama masyarakat Kendeng. Fitri menuturkan, Taring Padi telah konsisten membersamai perjuangan warga Pegunungan Kendeng sejak 2006.
”Kemudian 2009 juga kami merespon degan membuat poster cukil kayu tentang 9 petani Pati yang ditangkap karena melawan pembangunan pabrik semen,” ungkapnya.
Karya Kendeng Lestari, Nyawiji Kanggo Ibu Bumi ditampilkan bersama puluhan karya lain dalam Festival Kendeng 2025 sebagai penanda bahwa karya tersebut telah mencapai bentuknya secara utuh.
Baca Juga: SMP Kanisius Kudus Tanamkan Integritas Lewat Panggung Seni pada Peringatan Hakordia
Selain lukisan, Taring Padi juga menampilkan sepuluh panji yang memuat tembang-tembang semangat perlawanan Samin. Panji-panji tersebut turut dipasang di Pendopo Pengayoman, Blora.
”Festival Kendeng ini sebagai momen bahwa karya ini secara utuh sah menjadi fungsi. kita sudah prestasikan kepada warga. Kita tidak menjadi beban lagi karena karya ini kembali ke tanahnya,” imbuh seniman Taring Padi lainnya, Bebe.
Editor: Haikal Rosyada

