Ugal-Ugalan BRT dan Salah Kaprah Patung Diponegoro, Tergambar di Pameran Foto Click

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sebanyak 476 Foto Karya Pelajar Semarang dipamerkan di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang. Sepanjang siang hingga malam, pengunjung dari masyarakat umum silih berganti mendatangi pameran bertajuk “Click!” ini.

Bahkan, Iswar Aminuddin, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang juga turut hadir untuk melihat pameran foto ini. Ia mengaku sedang berjalan-jalan bersama keluarga menikmati suasana Kota Lama di malam minggu. Iswar pun nampak antusias menikmati karya-karya anak muda tersebut.

Sebelumnya, Nugroho DS, Komite Fotografi Dekase yang terlibat sebagai narasumber workhshop penunjang pameran Click! turut hadir mengupas karya-karya pelajar dari 4 sekolah, yaitu SMA N 4, SMA N 4, SMA N 14, dan SMA Kesatrian 2 itu.

-Advertisement-

Baca juga: Dekase Gelar Pameran 476 Foto Karya Pelajar di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang

Ia mengaku tertarik, terutama pada dua karya yang dibuat para calon fotografer profesional tersebut. Ia memilih foto dengan obyek penumpang BRT dan suasana perkotaan di malam hari yang diambil dengan eye bird angle.

“Foto ini menggambarkan mereka paham tentang komposisi gambar. Di situ juga ada framming, ada lighting, dan beberapa parameter keindahan fotografi lainnya,” ujar Nugroho.

Rahmat Saputra, pelajar SMA Kesatrian 2 pembuat karya foto suasana di dalam BRT tersebut mengaku sebelumnya telah menyiapkan dengan persiapan matang untuk mengambil foto. Ia dan tim sesama pelajar sekolahya bersepakat untuk mengambil suasana di BRT atas pengalaman mereka naik moda transportasi umum di Semarang itu.

“Yang di pikiran saya, BRT ya ugal-ugalan. Tapi saya tidak selalu naik BRT, soalnya suka mual kalau naik BRT,” ungkapnya.

Beda lagi dengan Andika, pelajar SMA N 14. Ia memotret obyek patung Diponegoro yang menaiki kuda. Patung ini merupakan ikon pintu masuk wilayah Universitas Diponegoro Semarang.

Menurut Andika, selama ini terjadi kesalahan yang kaprah pada penyebutan patung Diponegoro naik kuda. Masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai patung kuda untuk mengidentifikasi wilayah sekitar Undip. Atas fenomena ini, Andika dan teman-temannya bersepakat untuk membuatnya dalam karya fotografi.

Baca juga: Anak Berkebutuhan Khusus Gelar Pameran Lukisan di Museum RA Kartini

“Saya memotret patung Diponegoro karena ini ikonik di Kota Semarang. Tapi justru masyarakat sering salah sebut jadi patung kuda, ujarnya.

Nugroho sendiri mengaku belum memberi penekanan materi tentang pesan dalam fotografi di workshopnya. Ia saat ini hanya meminta para pelajar untuk terus memotret. Menurutnya intensitas dalam memproduksi karya menjadi penting sebagai dasar berkarya.

Pameran yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Semarang (Dekase) dan Komunitas Transformasi Kota (Kotta) ini digelar pada Jumat (26/5/2023) dan ditutup pada Sabtu (26/5/2023).

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER