BETANEWS.ID, KUDUS – Ari Supriyanto (34) dan Nur Laila Safitri tampak sibuk memproduksi cokelat karakter di rumah produksi Nurry Choco, Desa Bakalankrapyak RT 1 RW 1, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Di momen menjelang Lebaran, mereka seperti tak bisa meninggalkan dapur untuk membuat pesanan yang membeludak.
Setiap bentuk cokelat yang telah jadi itu, merupakan hasil usaha bertahun-tahun yang mereka jalani hingga seperti saat ini. Ari dan Laila pantas bangga, usaha yang dirintis pada 2015 itu kini sudah memasok 112 toko di Jawa Tengah.
Bahkan demi membesarkan usahanya itu, Ari memutuskan resign kerja dengan jabatan kepala toko. Ia yakin keluar dari kerjaan saat melihat usaha istrinya itu sangat potensial untuk dikembangkan.
Baca juga: Cokelat Karakter Nurry Choco Ramai Dipesan untuk Lebaran, Sampai Nolak-Nolak Orderan
“Saya terakhir bekerja di toko Amanda Brownies Kudus sebagai Kepala Toko. Karena kerja fokus dan hasilnya bagus, alhamdulillah omzet naik hingga 300 persen saat saya pegang. Dari dulunya yang laku ratusan boks sekarang bisa laku ribuan boks,” beber Ari kepada Betanews.id, Rabu (13/4/2023).
Menurutnya, ia bekerja di sana selama lima tahun. Pihaknya bekerja di sana mendapat pengalaman yang luar biasa, bahkan mampu mengasah mental yang kemudian diterapkan untuk kembangkan usaha istrinya.
“Jadi yang babat alas untuk pemasaran suplai ke toko ritel kecil maupun ritel besar itu saya semua. Dari semula yang hanya suplai 5 toko, sekarang suplai hingga 112 toko di daerah area Jawa Tengah. Toko tersebut di antaranya, Kudus, Jepara, Pati, Tegal, Purwokerto, Pekalongan, Semarang, dan Magelang,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pihaknya sebenarnya memiliki target untuk tahun ini ingin merambah ke luar provinsi, yaituYogyakarta dan Jawa Timur. Namun, karena dalam penyuplaian barang pihaknya sampai kewalahan, sementara waktu targetnya ditunda.
Baca juga: Cokelat Tempe, Camilan Unik dari Nurry Choco yang Kian Digemari Milenial
“Sebenarnya untuk target tahun ini ada penambahan toko rute area Jogja dan Jawa Timur. Cuma karena SDM (Sumber Daya Manusia) sedikit, otomatis kalau menambah toko itu makin kepontal. Ini aja yang sekitar 100 toko aja sudah kepontal, kok. Jadi saat ini kita tunda dulu,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini untuk permintaan pasar suplai ke toko ritel itu sekitar 100 toples untuk satu toko dalam jangka waktu satu bulan. Namun, pihaknya saat ini hanya bisa memberikan total 60 toples setiap toko dalam sebulan.
“Rata-rata per satu toko ritel permintaannya 100 toples selama satu bulan. Karena kami belum mampu untuk memenuhi permintaan pasar itu, kami kasih 30 toples dulu, kemudian setelah dua minggu habis kita kirim 30 toples lagi. Meskipun sedikit tapi semua rata,” jelasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

