MWA Belum Cabut Somasi, Mahasiswa FKOR UNS Kembali Demo

BETANEWS.ID, SOLO – Mahasiswa dan dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali melakukan aksi demo pada Kamis (9/2/2023). Mereka menuntut pencabutan somasi yang dilayangkan pihak Majelis Wali Amanat (MWA) UNS kepada Dekan Fakultas Keolahragaan (FKOR) Sapta Kunta Purnama dan Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Revino beberapa waktu lalu.

Sebab, surat somasi yang dilayangkan kepada Dekan FKOR dan Dekan Fakultas Kedokteran itu belum dilakukan pencabutan oleh pihak MWA. Selain itu, permintaan mahasiswa untuk musyawarah dan membicarakan soal kejelasan terkait hal itu belum mendapat balasan dari MWA.

Kaprodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga FKOR UNS Haris Nugroho mengatakan, bahwa aksi tersebut merupakan tindak lanjut dari tuntutan aksi sebelumnya yang belum dipenuhi oleh pihak MWA.

-Advertisement-
Mahasiswa FKOR UNS kembali demo tuntut MWA cabut somasi yang dilayangkan kepada Dekan FKOR dan Dekan FK. Foto: Khalim Mahfur.

Baca juga: Tanggapi Demo Mahasiswa FKOR UNS, Kuasa Hukum MWA Anggap Kegagalan Rektor

“Ini gerakan solidaritas aksi gerakan moral yang kedua. Intinya seperti pertama, kita meminta kepada MWA untuk mencabut somasi sesaui dengan prodak hukum. Kalau mereka memulai mensomasi dengan tertulis dan harus mencabut secara hukum secara tertulis dan diberikan kepada FKOR,” kata Haris.

Jika tidak dilakukan pencabutan atas somasi tersebut, Haris mengatakan, bahwa pihaknya akan terus melakukan aksi hingga tuntutan dipenuhi. Pada aksi yang pertama, pihaknya sudah mendapatkan perhatian dari Rektor UNS, Jamal Wiwoho yang akan menyampaikan hal tersebut kepada MWA.

“Hasilnya sudah ada mediasi, tapi mediasi itu ternyata ya sampai sekarang kita belum menerima somasi yang dicabut secara tertulis sesuai dengan produk hukum. Mediasinya antara MWA dengan pak Dekan (Sapta Kunta) dengan Ketua Senat FKOR yang dilakukan kemarin tanggal 7 Feruari 2023,” paparnya.

Dalam aksi kali ini, lagi-lagi setelah diperiksa di ruangannya, pihak MWA juga tidak berada di sana, serta kantor MWA juga dalam kondisi terkuci. Menurut Haris, pihak MWA sudah mengetahui jika aksi tersebut akan dilakukan sehingga mereka segaja untuk tidak berangkat ke kantor.

“Dan bagi kita semua, ini adalah sesuatu yang memprihatinkan. Karena kita sebagai aktivitis akademika, atau sebagai anak mau ketemu bapaknya untuk menyampaikan hal dengan baik, tetapi mereka tidak mau menemui,” katanya.

Sola penyegelan ruangan MWA yang dilakukan pada aksi sebelumnya, menurut Haris, hal itu adalah sebuah spontanitas saja, lantaran pihak MWA yang juga tidak bisa ditemui pada saat itu.

“Hari ini tadi mau disegel, saya melarang, karena itu bukan hak kita untuk menyegel ruangan, karena MWA itu adalah lembaga. Yang kita bicarakan di sini mungkin oknum dari MWA-nya, jadi kita tidak menyalahkan lembaganya, tapi oknum-oknumnya yang mungkin telah melakukan hal yang tidak pas,” katanya.

Sementara, perwakilan dari mahasiswa FKOR, Rohadi Setyo Wibowo mengatakan, bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan mahasiswa lantaran dekannya yang disomasi. Dengan adanya somasi tersebut, menurutnya tidak hanya berdampak kepada UNS, tetapi juga akan berdampak pada National Paralimpyc Commite (NPC). Sebab, Sapta Kunta Purnama juga merupakan salah satu anggota dari organisasi pembina atlet penyandang disabilitas di Indonesia.

Baca juga: Tak Terima Dekan FKOR UNS Disomasi MWA, Ratusan Mahasiswa dan Dosen Gelar Aksi Solidaritas

“Pak Kunta masuk di pimpinan NPC Indonesia dan itu sangat mengganggu kinerjanya beliau karena disomasi. Artinya, berdampaknya bukan hanya terkait UNS internal sendiri tapi meluas sampai ke prestasi Indonesia karena atlet-atletnya juga merasa terganggu dengan adanya somasi ini,” kata Rohadi.

Bahkan, Rohadi mengatakan, bahwa atlet disabilitas juga ingin bergabung pada aksi tersebut. Namun hal itu tidak disetujui oleh Dekan FKOR, lantaran situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Meski demikian, aksi kali ini juga diikuti oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) UNS.

“Temen-temen dari FK pun kita tidak ada undangan, mereka juga datang spontan. Mungkin melihat aksi kita yang pertama, mereka hatinya tergerak, karena juga statement yang disampaikan oleh pihak MWA terkait dengan FK yang sudah meminta maaf, ternyata juga tidak benar seperti itu. Jadi mungkin mereka juga merasa kalau ayahnya mereka atau dekan mereka, juga sama dengan bapaknya kita di Fakultas Keolahragaan. Akhirnya mereka datang menyampaikan aspirasi,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER