BETANEWS.ID, KUDUS – Banjir di Kudus menyebabkan puluhan ribu warga merana. Beberapa balai desa dan tempat ibadah pun disulap jadi tempat pengungsian, salah satunya di Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Tanjungkarang Kudus.
Sebagai salah satu desa yang terdampak banjir, ada ratusan warga Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati yang memilih mengungsi di aula GKMI. Pengungsi di gereja itu tidak hanya umat Kristen saja, tapi juga warga pemeluk agama lain, termasuk Islam.
Di Posko pengungsian GKMI Tanjungkarang, Jati, Kudus, sekitar pukul 12:30 WIB ratusan pengungsi terlihat sedangan mengobrol satu sama lain. Di aula gereja tampak dua orang, ibu dan anak sedang Salat Zuhur. Dengan beralasakan sajadah, mereka tampak khusuk menjalankan salat meski ada gambar Salib besar di samping mereka.
Baca juga: Kedalaman Banjir di Depan Terminal Kudus Capai 50 Cm, Pengendara Harap Hati-Hati
Aula gereja tersebut juga lah yang jadi tempat tidur bagi para pengungsi korban banjir. Usai salat, perempuan bernama Mariyana (48) tersebut mengaku sudah mengungsi di gereja hampir sepekan, setelah rumahnya kebanjiran setinggi pinggang orang dewasa.
“Memilih mengungsi di GKMI Tanjungkarang karena dekat dari rumah. Selain dekat, tempatnya juga nyaman,” ujar Mariyana yang mengungsi bersama keluarganya, Kamis (5/1/2023).
Selama mengungsi, ia dan lainnya mendapatkan makan tiga kali sehari. Obat-obatan dan tim kesehatan juga disediakan. Untuk salat, ia dan pengungsi lain melaksanakannya di Aula Gereja.
“Saya dan pengungsi lain salat saja tidak was-was atau khawatir dengan gambar salip. Kami salat saja dengan khusuk,” tandasnya.
Baca juga: Warga Tanjungkarang Dirikan Titipan Sepeda Motor untuk Warga yang Takut Terjang Banjir
Pengurus GKMI Tanjungkarang Kudus Boedi Poedjijono mengatakan, saat ini di GKMI Tanjungkarang ada sekitar 132 pengungsi dari 36 kepala keluarga (KK). Pengungsi tersebut berasal dari Desa Tanjungkarang dengan latar belakang lintas agama.
“Para pengungsi kami sediakan makan tiga kali sehari. Kami juga sudah kerja sama dengan Puskesmas Jati untuk pelayanan kesehatan bagi para pengungsi,” ujar Boedi.
Untuk ibadah, kata Boedi, pihaknya sangat terbuka dan mempersilahkan para pengungsi untuk menjalankannya sesuai kepercayaan masing-masing. Hal itu sebagai wujud membina toleransi yang ada di Kabupaten Kudus.
“Kami sangat menghargai kepercayaan agama lain. Kami juga sangat menoleransi keberagaman di Kudus ini. Jadi kami persilakan para pengungsi untuk beribadah sesuai agamanya masing-masing,” bebernya.
Baca juga: IJTI Muria Raya Hibur Anak-Anak Korban Banjir Kudus dengan Kesenian Barongan
Dia mengatakan, GKMI Tanjungkarang jadi pos pengungsian banjir sejak tanggal 31 Desember 2022. Ketika itu ada empat kepala kelurga yang rumahnya kebanjiran. Kemudian mereka datang ke gereja untuk mengungsi.
“Ketika itu pihak gereja langsung menyediakan aula sebagai tempat pengungsian hingga saat ini. Saat ini jumlah pengungsi ada 132 orang yang menempati aula gereja serta enam kelas sekolah Minggu,” ungkapnya.
Posko banjir di GKMI Tanjungkarang akan terus dilanjutkan sampai banjir surut dan pengungsi bisa pulang ke rumah masing-masing. Selain menyediakan tempat pengungsian, GKMI juga membuka akses gereja sebagai jalan tembus para pengguna jalan agar tak terjebak banjir dan kendaraan mereka macet.
Editor: Ahmad Muhlisin

