BETANEWS.ID, KUDUS – Jembatan apung di Sungai Wulan yang menghubungkan antara Desa Setrokalangan, Kabupaten Kudus dan Desa Kedungwaru Lor, Kabupaten Demak sudah resmi beroperasi, Senin (12/12/2022). Meski berbahan kayu, jembatan apung sepanjang 80 meter itu pun diklaim aman untuk dilewati.
Hal itu dikatakan oleh perwakilan investor jembatan apung dari Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes yakni Yahya Maulana. Dia mengatakan, bahwa jembatan apung tersebut sangat aman dilintasi. Meskipun nanti ada arus lebih besar, jembatan apung di Sungai Wulan tidak akan hanyut.

Baca juga: Pembangunan Jembatan Apung Setrokalangan Diklaim Telan Dana Hingga Rp 500 Juta
“Jembatan apung ini sangat aman. Ketika nanti debit air naik dan ada arus yang lebih deras, jembatan tak akan hanyut dan tetap aman untuk dilewati” ujar Yahya kepada awak media, usai acara peresmian.
Yahya pun menegaskan, warga yang melintas di jembatan apung Sungai Wulan agar tidak khawatir. Sebab, pihaknya sudah sangat berpengalaman dalam pembangunan jembatan apung.
“Kami sudah membangun jembatan apung sebanyak 24 titik dan ini yang ke-25. Bahkan kami juga pernah membangun jembatan apung yang lebih panjang dari yang ada di Sungai Wulan,” bebernya.
Pihaknya juga akan menempatkan beberapa orang untuk berjaga di jembatan apung. Pekerja tersebut nantinya akan bertugas memperbaiki jembatan jika ada kerusakan atau hal yang dikira mengkhawatirkan.
“Akan kami tempatkan pekerja ahli di sini. Mereka nanti yang akan memperbaiki dan memastikan jembatan apung tetap aman dilewati ketika debit air naik,” jelasnya.
Baca juga: Jembatan Apung Setrokalangan Resmi Beroperasi, Tarifnya Rp 2 Ribu Sekali Lewat
Disinggung terkait pemilihan bahan jembatan apung yang menggunakan kayu mahoni, Yahya berdalih bahwa bahan tersebut lebih aman dan awet ketika terkena air dibanding kayu jati. Selain itu, pihaknya nanti juga akan melakukan perbaikan berkala ketika ada kerusakan.
“Perbaikan akan selalu kita lakukan. Ketika ada yang patah langsung kita ganti. Pokoknya kemanan tetap kita nomor satukan,” pungkasnya.
Editor: Kholistiono

