BETANEWS.ID, KUDUS – Teguh Harjo Prakoso (26) terlihat sedang memberi makan ayam di kandang yang berada di Desa Tanjungrejo RT 7 RW 3, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Setiap harinya, secara bergantian bersama dua saudara kandungnya memang selalu berada di tempat tersebut untuk mengecek ayam-ayam peliharaan mereka.
Bisnis ayam jenis Kampung Unggul Balikbangtan (KUB) yang sudah dirintis 2020 lalu itu memang masih diurus oleh keluarga, karena belum menemukan karyawan yang cocok. Meski begitu, ia tak masalah karena jika diurus sendiri, pihaknya bisa mengontrol dengan baik peternakan tersebut.

Bagi Teguh, bisnis ayam tersebut merupakan pelampiasannya saat harus keluar dari kerja di kapal pesiar karena terimbas pandemi.
Baca juga: Ayam Jenis KUB dan AKY Ini Bisa Panen Hanya dalam 2 Bulan; Dagingnya Laris, Telurnya Apalagi
“Tahun 2018 saya mencoba bekerja pelayaran di kapal pesiar dengan rute di kawasan Asia. Bekerja di kapal itu hampir setahun, yang tak lama kemudian ada musibah besar yakni pandemi. Lalu kita (bersama saudaranya) mencari peluang usaha ternak yang menurut kita tidak ribet dan menghasilkan uang secara efektif,” beber Teguh kepada betanews.id, Selasa (25/10/2022).
Lalu, ketemu lah usaha ternak ayam jenis KUB dan AKY yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian RI. Menurutnya, ayam jenis itu bisa panen lebih cepat dengan bobot sesuai ukuran pasar.
“Karena panen bisa lebih cepat dibandingkan dengan ayam kampung biasa, kami pun memutuskan untuk ternak ayam jenis ini. Lagipula dari segi daging tak jauh berbeda dan ayam kampung biasa,” ungkapnya.
Ia memulai usaha tersebut berawal dari 100 ekor saja, yang kemudian berkembang dan kini totalnya 8.000 ekor ayam. Menurutnya, perkembangan peternakannya itu tidaklah mudah. Ia dan dua saudaranya itu juga mengalami kendala saat awal merintis.
Baca juga: Hampir Menyerah Karena Jualannya Sepi, Kini Alex Sudah Punya Tiga Cabang Lapak Gorengan
“Kami juga pernah rugi puluhan juga dari penjualan daging frozen yang masih kita teruskan hingga saat ini. Frozen-frozen ini tidak memenuhi syarat pengiriman ke konsumen dan mengakibatkan kerugian. Tapi ini bisa menjadi pembelajaran kami supaya ke depannya bisa lebih baik lagi,” tuturnya.
Dengan omzet yang mencapai ratusan juta sebulan, anak kedua dari tiga bersaudara itu kini lebih memilih untuk mengembangkan usaha ketimbang harus balik bekerja di kapal pesiar.
“Saat ini fokus saya memang untuk mengembangkan usaha terlebih dahulu. Karena usaha ini masih membutuhkan tenaga yang saat ini hanya kita kelola kekeluargaan,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

