BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebuah rumah yang berada di dekat Masjid Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, siang itu tampak seorang wanita sedang sibuk mengemas cokelat yang akan dikirim ke konsumen. Dia adalah Nur Laila Safitri, Owner Nurry Choco.
Ia menyebut, cokelat yang dikemasnya itu merupakan salah satu produk teranyar dari Nurry Choco, yaitu cokelat tempe yang kini makin diminati banyak konsumen.
Di tengah kesibukannya, dia membagikan ide kreatifnya membuat olahan tempe menjadi camilan cokelat yang nikmat. Menurutnya, awalnya membuat cokelat dengan bahan dasar tempe berkat pelatihan yang didapatkannya. Ia kemudian mencobanya dan mengkreasikannya sendiri.

Baca juga: Cokelat Tempe, Camilan Unik dari Nurry Choco yang Kian Digemari Milenial
“Idenya itu awalnya saya ingin membuat inovasi dengan menggunakan bahan ndeso lah istilahnya. Tidak memakai kacang atau mete pada umumnya. Kalau seperti itu kan malah, jadi mahal. Terus pingin buat cokelat yang sekiranya bisa dijangkau dari kalangan atas, menengah, dan bawah. Lalu terpikirlah cokelat tempe,” katanya pada Betanews.id, Rabu (16/11/2022).
Tidak hanya itu, memilih tempe sebagai pengganti kacang dan mete bukan tanpa alasan. Nur menambahkan, ia sengaja memanfaatkan produk lokal dan mudah ditemui sehari-hari. Di sisi lain, tempe juga terbilang murah dan tidak mengeluarkan biaya banyak.
“Menggunakan tempe lebih hemat daripada kacang dan mete. Kalau tempe misal satu lonjor Rp 10-15 ribu itu bisa jadi banyak. Beda dengan mete, sekilo saja Rp 60 ribu, itu paling jadi sedikit. Begitu juga dengan kacang, sekilo Rp 50 ribu, lumayan harganya, jadi lebih ekonomis tempe ,” imbuhnya.
Berkat ide kreatifnya itu, Nur malah sukses membuat tempe cokelat dan memiliki banyak peminat. Dalam sehari ia bisa menghabiskan 20-50 pack lewat penjualnya di pusat oleh-oleh dan market place Shopee maupun Lazada.
Baca juga: Kisah Pipit Rintis Bisnis Cokelat Karakter yang Kini Suplai 50 Toko dan Minimarket di 7 Daerah
“Kalau saya dengar dari customer itu, cokelatnya ini enak, tidak kerasa ada tempenya. Ada yang bilang kacang atau mete. Jadi cara saya berhasil dong, dengan memanfaatkan tempe yang harganya lebih murah,” terangnya.
Nur menjual tempe cokelat dengan berbagai varian rasa. Untuk rasa original dihargai Rp 18 ribu, milk Rp 20 ribu, dan strawberry milk Rp 20 ribu. Kini pemasarannya tidak hanya di Kudus saja, melainkan di Jepara dan Pati.
“Target ke depan semoga bisa sampai ke Semarang, dan bisa jalan terus. Di sana juga sudah ada beberapa kenalan temen-temen yang bakal bantu UMKM,” pungkasnya.
Editor: Kholistiono

