BETANEWS.ID, SOLO – Beberapa layar tampak terpasang di Omah Banjarsari, Kecamatan Banjarsari Solo. Di depan layar itu, beberapa orang terlihat duduk sambil menikmati hidangan yang disiapkan. Tak lama kemudian, sebuah film dokumenter diputar dan pengunjung langsung fokus menonton. Usai pemutaran, acara disambung dengan sharing dan bedah film dengan pembuat filmnya.
Rupanya, acara itu adalah kegiatan Sodoc (Solo Documenter) Film Festival. Acara dua tahunan itu kembali digelar tahun ini setelah sebelumnya sempat tertunda karena Pandemi Covid-19.
Programer Sodoc Festival, Ma’ruf menerangkan, kegiatan yang diinisiasi oleh Perkumpulan Solo Documentary (Sodoc) itu mengangkat tema Dengung.
Baca juga: Rupa Manusia, Film Dokumenter Tentang Pelaku Seni Rupa yang Kritisi Penegakan HAM
“Itu sebenarnya terinspirasi dari kata buzzer sih, kalau diterjemahkan pendengung ya. Kalau buzzer biasanya berisi tentang hal negatif, kita ingin mendengungkan hal yang positif di dekat kita. Intinya berlawanan dengan buzzer yang biasanya,” katanya, Kamis (27/10/2022).
Menurut Ma’ruf, acara yang berlangsung pada 26-29 Oktober 2022 itu banyak mengangkat isu yang secara umum soal pandemi Covid-19.
“Kebanyakan latarnya pandemi sih. Jadi gimana pandemi itu mengubah kebiasaan mereka terus mempengaruhi produktivitas,” katanya.
Adapun Sodoc Film Festival memiliki program utama kompetisi dan eksebisi. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada Sodoc Festival 2022 ini menghadirkan creative sharing ada forum komunitas yang dinamakan Hubungan Istimewa Komunitas (HIK).
“Terus kalau untuk program kompetisi itu ada Layar Liwet dan Layar Selat. Itu untuk kompetisi pelajar dan mahasiswa. Kalau untuk eksibisi iti ada layar Tengkleng dan layar Kembang Asem,” lanjutnya.
Pada kompetisi tersebut, terdapat 14 film yang masuk ke dalam babak final dari total 28 film yang ikut serta dalam perlombaan.
Baca juga: Angkat Peristiwa Petrus di Barutikung Dalam Film, Adit: ‘Kasus Pelanggaran HAM Belum Tuntas’
Tak hanya itu saja, Sodoc Film Festival 2022 kali ini menghadirkan layar Child untuk anak-anak dan juga layar Difabel yang mengangkat isu penyandang disabilitas.
“Child kita ngundang SD-SD gitu. Kalau difabel itu terbuka untuk umum. Terus kalau diskusi kita kerja sama dengan Yayasan Sehati, Sukoharjo, wadah sebagai pemayung hukum disabilitas,” katanya.
Sementara dalam forum HIK, dijelaskan Ma’ruf, terdapat sekitar sembilan perwakilan dari beberapa komunitas produksi film.
“Kalau di HIK itu ada semvilan Komunitas. Ada dari luar kota, Salatiga, Jogja. Kalau film makernya yang finalis dari Bandung, Purbalingga, banyak lah pokoknya,” tuntasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

