31 C
Kudus
Jumat, Agustus 12, 2022
spot_img
BerandaKUDUSPATIAngkat Peristiwa Petrus...

Angkat Peristiwa Petrus di Barutikung Dalam Film, Adit: ‘Kasus Pelanggaran HAM Belum Tuntas’

Rembulan tampak jelas di atas langit Desa Bumiharjo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Senin (16/5/2022) malam, saat sejumlah orang menyaksikan film dokumenter di halaman rumah joglo milik Susilo Tomo, perupa asal desa setempat. Suasana hening malam pedesaan, mengantar mereka larut dalam adegan demi adegan film berjudul “Rupa Manusia, Seni Rupa untuk Manusia”.

Film dokumenter tersebut dibuat oleh Adhitia Armitrianto, Rezky Leksono, dan Tommy Y Setyawan. Film berduarasi 26 menit itu mengangkat isu Hak Asasi Manuria (HAM), melalui karya seni rupa. Tokoh utama dalam film ini yakni Konde, seorang perupa asal Barutikung, Semarang, yang menuangkan memori kegetiran masa lalunya melalui goresan tinta dan kanvas.

Pemutaran film ini merupakan bagian dari rangkaian acara pameran seni rupa bertajuk Asam Garam yang diselenggarakan kelompok Songolikur, dan Sajen yang digelar kelompok Rupati. Acara ini dihelat untuk memperingati Hari Menggambar Nasional pada bulan Mei. Pameran ini menampilkan karya dari sejumlah perupa, antara lain Susilo Tomo, Brian Farid, Imam Tohari, Putut Pasopati, dan sejumlah perupa lainnya.

Aditia Armitrianto (kiri) saat pemutaran film dokumenter karyanya, di Desa Bumiharjo, Pati, Senin (16/5/2022). Foto: Rabu Sipan
- Ads Banner -

Pemutaran film telah usai, para penonton, termasuk Kepala Desa Bumi Harjo, Agus Pujo Hariyanto, memberikan tepuk tangan. Adit, sapaan akrab Adhitia Armitrianto, yang menjadi sutradara film tersebut, lalu duduk di depan para penonton untuk menjelaskan proses pembuatan film, sekaligus menjawab sejumlah pertanyaan dari penonton.

Baca juga: Angkat Peristiwa Petrus di Barutikung Dalam Film, Adit: ‘Kasus Pelanggaran HAM Belum Tuntas’

Adit menjelaskan, film Rupa Manusia dibuat dari kumpulan dokumentasi peringatan Hari HAM di Kota Semarang, mulai dari tahun 2016 hingga 2021. Menurutnya, ada beberapa perupa Semarang yang konsen mengadakan pameran tentang pelanggaran hak asasi manusia, termasuk Konde yang kemudian diangkat sebagai tokoh utama dalam filmnya.

“Karya-karya Konde sangat dipengaruhi peristiwa petrus (penembakan misterius) yang terjadi di tempat tinggalnya. Dia merasakan betul apa yang terjadi saat itu, dan kemudian dituangkan dalam karya seni rupa. Menurut Komnasham, kasus pelanggaran HAM peristiwa petrus hingga kini belum tuntas,” ujar Adit.

Melalui filmnya itu, Adit yang juga Ketua Dewan Kesenian Kota Semarang, menyatakan ingin memberi pesan sekaligus mengingatkan, bahwa di negeri ini masih ada persoalan HAM yang belum tuntas. Dia berharap para aktivis dan seniman di daerah terus bergerak untuk menyuarakan kasus-kasus pelanggaran HAM yang hingga kini belum tuntas.

Adit menambahkan, pemutaran film dokumenter ini merupakan yang pertama, setelah primier di Kota Semarang dengan penonton dari kalangan terbatas. Setelah ini, film “Rupa Manusia, Seni Rupa untuk Manusia” akan diputar di sejumlah daerah lain, di antaranya Kudus dan Jepara.

Editor: Suwoko

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

32,381FansSuka
15,327PengikutMengikuti
4,330PengikutMengikuti
90,084PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler