BETANEWS.ID, KUDUS – Sayuran okra atau okura (Abelmoschus Esculentus) mulai dikembangkan di beberapa daerah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Kudus. Kendati tidak terlalu populer di Indonesia, tanaman pangan yang dapat tumbuh di dataran rendah ataupun tinggi itu diminati pasar luar negeri,khususnya Jepang.
Salah satu petani yang kembangkan okra adalah Suyoto, warga Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus. Ia bermitra dengan PT Kelola Agro Makmur (KAM) Temanggung. Sejauh ini, katanya, pangsa pasar dari okra adalah Jepang.

Baca juga: Kisah Sukses Harsono Bertani Porang yang Mampu Hasilkan Rp 800 Juta Tiap Panen
Meski begitu, karena ia bermitra dengan perusahaan, harga yang menentukan adalah perusahaan tersebut. Untuk okra dengan kualitas grade A, harga per kilogram Rp 6.500 dan Rp 1.300 untuk grade B. Dengan harga segitu, menurut Suyoto, belum menguntungkan bagi petani.
“Harusnya harga Rp 9 ribu sampai Rp 10 ribu, supaya petani dapat untung. Karena dari pihak PT, kalau perbandingan antara grade A dan grade B 50 persen, harga itu bisa dikurangi lagi,” ungkap pria yang akrab disapa Yoto kepada betanews.id, Jumat (9/9/2022).
Sejak satu setengah bulan saat ia memulai budidaya okra, belum ada keuntungan yang didapatkannya. Luas tanah yang saat ini ditanami okra dengan luas 3.400 meter dapat menghasilkan okra 50 sampai 60 kilo setiap hari, belum bisa untuk menutup kekurangan modal dan bayar kuli.
“Sebenarnya okra ini bagus, karena setelah umur 41 hari sudah bisa dipanen. Kemudian panennya bisa dilakukan setiap hari, tapi sayangnya untuk harga yang ditentukan itu belum bisa menguntungkan,” jelasnya.
Hal yang sama juga diungkap Rusnanto yang memiliki lahan 6.000 meter ditanami okra. Menurutnya, jika petani okra dipermainkan oleh pihak PT, karena ia sangat merasa dirugikan dengan harga yang ada grade-nya. Kemudian perbandingan harga grade A dan B juga terpaut jauh.
Baca juga: Sayuran Petani Kaki Gunung Merbabu Sepekan Dua Kali Diekspor ke Singapura
“Tadinya saya tertarik menanam okra ini karena pada awal sosialisasi sangat menjanjikan dan untung bisa sampai 50 persen. Tapi setelah berjalan satu setengah bulan ini malah rugi. Hasil panen hanya bisa dibuat untuk membayar kuli,” bebernya.
Ia pun mengaku tak mau lagi untuk menanam okra dan ingin merombak lahan persawahannya ditanami dengan padi saja.
Editor : Kholistiono

