BETANEWS.ID, KUDUS – Nabila Izzatin Nisa (20) terlihat cukup sibuk melayani pembeli siang itu. Tangannya terlihat cukup cekatan memotong pisang yang kemudian ditata dalam mangkuk. Di cuaca yang terik, minum es memang jadi salah satu cara menghilangkan dahaga, dan Kedai Pisang Ijo Annisa miliknya kemudian jadi pilihan orang-orang.
Bagi Nabila, usaha itu merupakan salah satu upayanya agar bisa mandiri. Ia ngin, saat lulus kuliah nanti, Mahasiswa IAIN Kudus itu sudah punya usaha yang mapan.

“Saya kan masih kuliah di IAIN Kudus. Jadi daripada ke kampus lalu pulang tidak ada penghasilan, ya sudah tak terusin saja sejalannya. Lumayan lah buat nambah-nambah uang jajan,” katanya, Sabtu (6/8/2022).
Baca juga: Menikmati Es Pisang Ijo Makassar yang Harganya Cuma Rp10 Ribu
Nabila mengaku dapat resep es pisang ijo dari kakaknya yang asli Makassar. Melihat dua stand yang menganggur lantaran kakaknya berhenti dan memilih mengurus anak, Nabila kemudian berniat melanjutkan usahanya.
“Awalnya dulu yang punya Kakak asli Makassar jualan di Jepara. Terus kakak saya berhenti karena ngurus anaknya. Daripada nganggur standnya lalu tak terusin aku,” terangnya.
Sebelum berpindah tempat, lanjut Nabila, dulunya ia pernah berjualan di sebelah Utara Museum Kretek. Akibat pandemi dan biaya ruko yang mahal, ia pun memutuskan membukanya di dekat rumah.
“Pernah punya pengalaman tidak enak juga di sana. Daripada nanti bahaya jaga sendirian terus pindah saja ke sini,” imbuhnya.
Baca juga: Rintis Usaha Bakso Aci Sejak SMK, Dyah Kini Sudah Tak Bergantung pada Ortu Lagi
Untuk satu porsi es pisang ijo, Nabila menjualnya seharga Rp10 ribu. Dalam sehari ia bisa menghabiskan 10-15 porsi. Terkadang ia juga kebanjiran orderan saat memasuki bulan suci Ramadan yang mencapai 50-60 cup.
Melihat peluang es pisang ijo Makassar di Kudus yang menjanjikan, Nabila berniat untuk meneruskan usahanya hingga memiliki kafe yang besar.
“Alhamdulillah jarang yang menjual es pisang ijo. Pembelinya juga tidak terduga-duga sih, ada yang asli Makassar karena kangen masakan asli sana, terus ada ibu-ibu datang ke sini ngidam juga pernah,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

