BETANEWS.ID, KUDUS – Ganden (31) penjuak rujak ulek serut tampak sedang mengupas buah mangga dengan sebilah pisau. Setelah terkupas, lantas dicucinya mangga itu dengan air dan kemudian diserutnya.
Ia pun mencampur serutan mangga dan beberapa buah lainnya dengan sambal ulek. Satu kantong plastik putih ia siapkan untuk membungkusnya, yang kemudian diberikan kepada pelanggan.
Saat ditemui, Ganden mengatakan, ia jauh-jauh dari Cirebon ke Kudus memang untuk berjualan rujak ulek serut khas Cirebon. Sebelumnya ia ikut saudara berjualan sup buah dan rujak setelah lulus SD. Dari pengalaman belasan tahun itulah, dirinya memiliki keahlian membuat rujak ulek serut.

Baca juga: Rujak Cingur di Mlati Kidul Ini Rasanya Tak Kalah dengan di Surabaya
“Sejak awal memang saya berniat jualan rujak ulek serut di Kudus. Karena biasanya memang cuma bikin rujak dan pernah 10 tahun di Jakarta dan Karawang 2 tahun,” ungkapnya kepada Betanews.id pada Kamis (21/7/2022).
Empat tahun sudah Ganden berjualan rujak di Kudus. Selama itu pula segala rintangan ia hadapi untuk bisa menghidupi anak dan istrinya yang berada di Cirebon.
Menurutnya, masa tersulitnya adalah saat pandemi Covid-19. Ia harus memboyong istrinya ke Kudus karena takut tak dapat berkumpul dan memberikan nafkah untuk keluarga.
“Istri dan anak kan di kampung (Cirebon), pas pandemi penjualan sepi, bahkan kadang laku kurang dari 10 porsi. Akhirnya tak bawa ke sini sekitar setahunan. Kalau tidak ada uang, yang penting masih kumpul. Makan tidak makan kumpul,” bebernya.
Katanya, meski sedikit, setiap hari ada pembeli, sehingga dirinya tetap bisa makan dan membayar kontrakan. Ia menambahkan, bahwa saat menghadapi masa sulit itu, dirinya selalu bangun tengah malam untuk berdoa kepada Tuhan agar diberi kelancaran. Setelah pandemi berkurang, semua kembali secara perlahan, istrinya pun kembali ke kampung.
Baca juga: Rujak Pedo, Kuliner Khas Morodemak yang Punya Cita Rasa Unik
Berkat ketekunan dan jerih payahnya, kini meski hanya dengan lapak gerobak, dirinya memiliki dua cabang rujak ulek serut. Yaitu di daerah Panjunan dan di Bacin, tepatnya di Jalan Sosrokartono, Desa Bacin, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.
“Dulu menghadapi masa sulit ya bangun tengah malam, salat, berdoa. Alhamdulillah cukup. Sekarang punya dua tempat, yang ini (di Bacin) cabangnya sudah setahun, pertama di daerah Panjunan,” katanya mengakhiri.
Editor: Kholistiono

