31 C
Kudus
Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
spot_img
BerandaKEDUMAGELANGMenguak Keunikan Candi...

Menguak Keunikan Candi Ngawen di Magelang, Candi Budha yang Dijaga 4 Singa Misterius

BETANEWS.ID, MAGELANG – Berbeda dengan candi Budha lainnya, Candi Ngawen memiliki beberapa keunikan. Keunikan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkujung ke Candi Ngawen di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.

Sumantoro, Teknisi Konservasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah yang bertugas di Candi Ngawen menjelaskan, ada beberapa keunikan yang dimiliki Candi Ngawen.

Candi Ngawen memiliki anomali teori percandian. Ia dilengkapi patung singa pada keempat sudutnya. Bentuk bangunannya nyaris mirip dengan bangunan candi Hindu. Hal ini disebabkan bangunan candi yang meruncing. Tetapi apabila diamati dengan seksama, candi ini memiliki stupa dan teras (undak-undak) yang menjadi simbol dalam candi-candi Budha.

Nampak anak-anak saat berkunjung di Candi Ngawen. Foto: Budi Prasetyo.
- Ads Banner -

Baca juga: Menyusuri Jalan Terjal Menuju Candi Gunungsari

“Candi Ngawen adalah candi Budha, karena terdapat patung Budha. Candi Ngawen ada keunikan tersendiri,” ujar Sumantoro.

Dijelaskannya, pada umumnya candi-candi Budha lainnya, patung singa berada di depan dan biasanya candi juga hanya satu. Sedangkan, Candi Ngawen merupakan candi yang terdiri dari lima candi kecil yang berjejer.

“Biasanya candi hanya satu, tapi ini berjajar lima. Ini menjadi keunikan tersendiri. Selain itu yang paling menarik adalah biasanya candi Budha menghadap ke barat, tetapi Candi Ngawen menghadap ke timur. Jadi ada keunikan tersendiri untuk hal-hal spiritual,” jelasnya.

Di tempat ini, pada candi utama, ada sebuah patung Budha yang kini kepalanya hilang. Patung Budha ini memiliki sikap duduk Ratna Sambawa atau biasa disebut Dyani Budha Ratna Sambawa. Sedangkan sikap tangan dari Dyani Budha Ratna Sambawa adalah Bumi Sparca mudra. Sebuah posisi tangan ketika memanggil Dewi Bumi untuk membantu mengusir mara bahaya ketika Sidharta bertapa di bawah pohon bodi.

Relief pada sisi candi masih nampak cukup jelas, di antaranya adalah ukiran Kinara Kinari. Kinara kinari adalah makhluk kahyangan yang berwujud setengah manusia setengah burung. Di kahyangan, mereka bertugas menjadi penjaga kalpataru dan pertunjukan.

Kinara Kinari selalu diukir mengapit Kalpataru. Sebuah pohon kahyangan, hidup sepanjang masa, tempat menggantungkan segala asa. Pada dahan-dahannya digambarkan berjuntai berbagai macam perhiasan yang indah-indah, sehingga harus dijaga oleh makhluk-makhluk kahyangan kinara.

Candi Ngawen mirip dengan Candi Mendut. Kompleks Candi Ngawen mencakup lima bangunan candi dengan letak berderet. Terdiri dari dua candi induk dan tiga candi apit. Candi induk merupakan candi utama, sedangkan candi apit adalah candi yang letaknya mengapit candi induk.

Candi apit juga diartikan sebagai bangunan pendamping candi induk. Karena candi induk diapit oleh candi apit, letak dari candi induk ada pada bangunan kedua dan keempat.

Keunikan seni arsitektur candi ini, salah satunya ditemukan pada arca singa yang menopang empat sisi bangunan candi yang berhasil direkonstruksi dari lima bangunan yang diperkirakan seharusnya ada. Gaya ukiran arca singa ini menyerupai lambang singa pada negara Singapura, dan berfungsi mengaliri air yang keluar lewat mulut arca.

Baca juga: Candi Prambanan dan Borobudur Kembali jadi Tempat Ibadah, Ganjar: ‘Saya Terharu dan Bahagia’

Berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa arca singa semacam ini tergolong sulit ditemukan pada bangunan-bangunan candi di Jawa. Namun, arca model ini dapat ditemui di beberapa kuil di wilayah Mathura di India.

Untuk diketahui, pada umumnya candi Budha menghadap ke barat, seperti Candi Mendut, Candi Pawon. Pengeculian untuk Candi Borobudur yang merupakan satu komplek candi besar dan menghadap ke semua arah.

“Candi Ngawen ditemukan dari reruntuhan letupan gunung berapi pada tahun 1864. Penemuan candi pertama kali dilaporkan oleh Hoepermans. Situs Candi Ngawen berupa reruntuhan bangunan dan ditemukan arca Budha,” pungkas Sumantoro.

Editor : Kholistiono

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

32,381FansSuka
15,327PengikutMengikuti
4,327PengikutMengikuti
90,084PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler