31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Cegah DBD Serang Anak-anak, Puskesmas Ngembal Kulon Launching Program Siber Santik

BETANEWS.ID, KUDUS – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Ngembal Kulon melonjak tajam. Tahun 2022, sejak Januari hingga Rabu (22/6/2022), ada 61 kasus DBD dan yang paling banyak terserang adalah anak-anak.

Kepala Puskesmas Ngembal Kulon Kamal Agus Efendi mengatakan, dari total 61 orang yang terserang DBD, lebih dari 60 persennya adalah anak-anak. Bahkan ada satu anak yang meninggal akibat DBD.

“Atas permasalahan itu, kami pun berikhtiar untuk cari solusi. Satu di antaranya dengan melakukan inovasi yang kami sebut Siber Santik, yang kami launching hari ini, Rabu (22/6/2022),” ujar pria yang akrab Kamal kepada Betanews.id.

-Advertisement-

Baca juga: Kasus DBD Meningkat, Puskesmas Ngembal Kulon Adakan ‘Fogging’ di Perkampungan

Dia mengatakan, Siber Santik merupakan akronim dari siswa berantas sarang dan jentik nyamuk. Inovasi ini, melibatkan para siswa dan seluruh sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di lingkup wilayah kerja Puskesmas Ngembal Kulon.

“Untuk launching ini yang kami undang semua sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas Ngembal Kulon, jumlahnya ada 24. Sedangkan siswa yang kami hadirkan ada enam siswa,” bebernya.

Nantinya, kata dia, segera ada tindak lanjut lagi. Sabtu (25/6/2022) mendatang, akan diadakan pelatihan dokter kecil di Puskesmas Ngembal Kulon. Pesertanya nanti ada 24, perwakilan masing-masing satu siswa dari SD dan MI yang ada di wilayah kerja Puskesmas Ngembal Kulon.

“Tujuannya agar mereka nanti bisa jadi pelopor, motivator untuk teman-temannya dalam pencegahan DBD. Kita juga libatkan para guru untuk mengedukasi para siswa untuk selalu jaga kebersihan lingkungan,” ungkapnya.

Selain itu, para siswa itu akan diajarkan secara teknis cara memantau jentik, cara memberantas sarang nyamuk. Termasuk dilatih dan diedukasi tentang kebersihan MCK sekolah. Serta diedukasi terkait 3M plus.

“Kita akan edukasi tentang 3M plus, yakni menguras bak air, menutup bak air, mengubur sampah, serta plus mencegah gigitan serta melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan jentik seminggu sekali,” jelasnya.

Dia menuturkan, selama ini dalam penanggulangan DBD, pihaknya menggerakan para remaja, orang dewasa hingga orang tua untuk membersihkan lingkungan rumah. Namun, nyatanya malah banyak anak-anak yang terkena DBD.

“Mungkin rumah bersih tapi lingkungan lain termasuk sekolah bisa jadi sarang nyamuk dan jentik, hingga mereka kemudian terkena DBD. Oleh sebab itu, dalam penanggulangan DBD di wilayah kerja kami pun melibatkan para siswa. Sebab jika anak-anak tidak diedukasi sejak dini untuk jaga kebersihan lingkungan, dikhawatirkan kasus DBD bisa makin meningkat,” ungkapnya.

Baca juga: Selama 2021 Kasus DBD di Kudus Capai 175 Kasus, 3 Meninggal

Sementara itu Camat Jati Fiza Akbar sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan pihak Puskesmas Ngembal Kulon dalam penanggulangan kasus DBD di wilayah kerjanya. Menurutnya, pemberian pemahaman dini terkait 3M kepada siswa sekolah dasar adalah hal yang tepat.

“Saya sangat mengapresiasi inovasi Puskesmas Ngembal ini dalam melibatkan siswa dasar dalam pencegahan DBD. Sebab, memang saat ini kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Ngembal ada 61 kasus, dan mayoritas yang terkena adalah anak-anak. Bahkan ada satu anak yang meninggal dunia,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER