31 C
Kudus
Kamis, Februari 26, 2026

Melihat Produksi Kompyang, Burger Jawa yang Diproduksi Mulai Dini Hari

BETANEWS.ID, SOLO – Istilah Solo Belum Tidur memang pantas menjadi julukan kota satu ini. Di saat banyak orang sudah terlelap beristirahat, para pedagang angkringan masih sibuk melayani para pelanggan. Meski sudah tengah malam, masih banyak kendaraan yang melintas di jalanan.

Di tengah dinginnya angin malam Kota Solo, tercium wangi wijen dan bakaran yang terletak di sebuah rumah yang berada di Kampung Penjalang, RT 002 RW 004, Gandekan, Solo. Di sana, nampak beberapa pria sedang menguleni adonan dari tepung terigu.

Terlihat juga seorang pria sedang sibuk dengan memutar kayu yang membara di sebuah tungku besar. Rupanya, mereka sedang membuat makanan Kompyang yang sekilas nampak seperti roti burger.

-Advertisement-
Kompyang, burger Jawa yang dibuat pada dini hari. Foto: Khalim Mahfur.

Baca juga : Menikmati Puyuh Presto Pak Yam yang Jadi Idola Warga Solo, Rasanya Memang Bikin Nagih

Kepada Betanews.id, sang pemilik yang bernama Hari Haryono (52) menceritakan, bahwa Kompyang dahulunya merupakan kuliner khas dari negeri Cina. Konon katanya, dahulu para pemuda Cina yang berangkat berperang membawa bekal Kompyang, lantaran makanan tersebut bisa tahan dalam waktu yang cukup lama.

Pada dasarnya, Kompyang terbuat dari bahan dasar yang sama dengan roti pada umumnya. Seperti tepung terigu, miyak goreng, soda kue, ragi, dan juga biji wijen.

“Proses pembuatannya, yaitu dari campuran antara tepung terigu, soda kue, terus garam, diuleni sampai membentuk bundaran seperti itu. Kemudian dikasih minyak, terus dipotong-potong manual seperti pakai tangan aja, terus dimasukkan ke dalam tungku yang sudah dipanasi,” jelasnya.

Yang membedakan dengan roti pada umumnya adalah, kompyang dimasak dengan cara dibakar dengan menggunakan tungku yang sangat besar. Pada saat adonan sudah siap untuk dimasak, adonan ditempelkan di dinding-dinding bagian dalam tungku yang sebelumnya sudah dipanaskan terlebih dahulu.

Cara memasaknya juga berbeda dengan roti-roti pada umumnya. Saat memasak, kayu bakar dengan api membara digantungkan di sebuah tungku sambil terus berputar dan dikipas, agar seluruh kompyang matang secara merata. Makanan yang satu ini, cara memasaknya juga masih menggunakan cara tradisional.

“Kalau dibuat menggunakan alat-alat modern, nanti jatuhnya jadi roti. Justru itu, makanya bedanya di situ. Kan misalkan masaknya dioven, kan kering nya beda, kalau ini kan bener-bener memang tradisional,” ujarnya.

Baca juga : Menikmati Puyuh Presto Pak Yam yang Jadi Idola Warga Solo, Rasanya Memang Bikin Nagih

Karena proses memasak yang berbeda dengan roti pada umumnya, kompyang memiliki tekstur yang lebih keras. Sehingga, meski dalam keadaan apapun, kompyang tetap bisa bertahan dan masih bisa dikonsumsi, haya saja memiliki tekstur yang alot. Bahkan, menurut Hary, jika dimasukkan ke dalam kulkas akan lebih tahan lama lagi.

“Kalau dua hari itu dia agak alot, tapi dia nggak basi lah. Makanya kalau sudah dua hari itu kalau misalkan saya kirim ke saudara saya yang di Jakarta, itu dimasukkan kulkas. Nanti setiap pagi dia dipotong, ini kan sudah ada bulunya dipotong, digoreng, rasanya enak,” ujarnya.

Hari mengatakan, biasanya orang-orang menikmati kompyang di pagi hari. Biasanya para pedagang mengambil stok di tempatnya saat pagi hari dan mereka mejualnya dengan berkeliling di daerah depan rumah kawasan Kampung Pecinan.

Untuk menjaga kesegaran kompyang, maka Hari harus memproduksi makanan ini pada tengah malamnya. Hal tersebut agar pada saat kompyang sampai di tangan pembeli masih dalam keadaan segar dan renyah.

“Kompyang ini memang menu pagi. Kalau dibuat sore sudah enggak krispi, ini makanya kenapa kok malam, ya karena itu kalau saya buat siang ya kan ini konsumsinya karena pagi. Kalau besoknya lagi sudah nggak enak,” kata dia.

Baca juga : Menikmati Sate Kere Mbah Yem yang Legendaris di Kota Solo

Di samping itu, kompyang juga hanya tersedia dalam varian original saja dan tidak bisa dimodifikai dengan campuran perasa apapun. Hal tersebut, lantaran kompyang dimasak dengan menggunakan tungku yang tidak bisa diatur kestabilan api yang digunakan.

“Nggak bisa sa dikasih mozarella atau cokelat itu dimasukkan ke tungku. Mozarellanya leleh jadi memang harus original. Karena akan menggunakan pembakaran yang panas, itu beda sama oven bisa diatur ini manual. Kadang-kadang kepanasan kadang-kadang dingin, lebih sulit dan dia nggak bisa pas,” jelasnya.

Dalam sehari, Hari bisa memproduksi kompyang sebanyak 1.500 hingga 2.000 buah. Produksi dimulai pada tengah malam dan selesai pada pukul 02.00 WIB. Selanjutya, pada pengecer akan datang ke rumahnya sekiar pukul 03.00, atau ada yang diantar ke Pasar Gede dan pasar-pasar lainnya.

“Harga yang kecil harganya Rp1.500 yang besar Rp 3.000,” kata dia.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER