BETANEWS.ID, KUDUS – Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menggelar tradisi Tabuh Beduk Blandrangan. Tradisi tersebut menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Tabuhan beduk dang – dang dari atas Menara Kudus menandai awal bulan Ramadan pada besok. Tradisi Blandrangan dimulai selepas Salat Asar yang diawali dengan berdoa bersama di Tajuk yang dipimpin oleh sesepuh. Kemudian para penabuh bedug Blandrangan yang berjumlah enam orang bersiap di bawah Menara Kudus. Sambil menaiki tangga menara secara bergantian, mereka mengalunkan selawat.

Baca juga : Tradisi Tabuh Beduk Blandrangan di Menara Kudus Tandai Awal Ramadan
Di atas menara, mereka bergantian menabuh beduk selama kurang lebih satu jam. Dua orang menabuh beduk di sisi kanan dan kiri beduk.
Alunan suara dari bedug itu membuat orang-orang yang mendengarnya merasa terpukau. Bahkan banyak di antara mereka rela berkumpul di pelataran Masjid Al Aqsa menyaksikan tabuhan beduk Blandrangan. Banyak pula yang mengabadikan tabuhan beduk dengan ponsel mereka.
Ketua YM3SK KH EM Nadjib Hasan mengungkapkan, tradisi Blandrangan ini sudah ada lama. Sejak Nadjib kecil pun, tradisi ini sudah ada di Kudus.
“Blandrangan ini tabuh beduk apabila besok sudah pasti Ramadan,” kata Nadjib.
Biasanya, tradisi ini hanya diisi dengan menabuh beduk saja. Namun sejak dua tahun terakhir, tradisi ini juga diikuti dengan ziarah di Makam Sunan Kudus bersama warga sekitar Menara Kudus dan juga masyarakat lainnya yang sedang berziarah. Dilanjut dengan makan bersama jajanan khas Kudus yang telah disediakan di samping Menara, khususnya intip ketan yang sudah khas, setiap ada Tabuh Bedug Blandrangan.
“Kegiatan ini insyaallah akan kita evaluasi, diharapkan tiap tahun diadakan kegiatan seperti ini. Dengan syarat kondisi memungkinkan. Yaitu penetapan awal Ramadan oleh pemerintah,” ungkapnya.
Tradisi ini juga biasa dikenal dengan Dandangan. Sebagai penanda malam pertama bulan Ramadan atau bulan puasa, beduk di atas Menara Kudus akan dibunyikan. Menghasilkan suara ‘Dang Dang Dang’. Kemudian disebut dengan Dandangan.
Demi merayakan suka cita menyambut bulan penuh berkah, banyak masyarakat sekitar yang menunggu di bawah Menara menyaksikan ditabuhnya beduk. Semakin tahun semakin ramai, hingga banyak yang menjual makanan-makanan khas Kudus. Sampai sekarang pun, tradisi tersebut masih melekat dengan Kudus.
Baca juga : Beduk Dugderan Sudah Ditabuh, Hendi Minta Warga Semarang Saling Menghormati saat Ramadan
Sementara itu, Dyah Ayu, warga Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus tertarik melihat tradisi Blandrangan lebih dekat. Setelah berziarah di Makam Sunan Kudus, untuk kali kedua, ia bersama keponakannya datang melihat langsung Blandrangan di Menara Kudus.
“Tradisi Kudus memang seperti ini. Kalau ada ini (Tabuh Beduk Blandrangan) berarti sudah pasti besok itu puasa,” ungkapnya.
Editor : Kholistiono

