31 C
Kudus
Senin, Oktober 25, 2021
spot_img
BerandaBudayaTradisi Tabuh Beduk...

Tradisi Tabuh Beduk Blandrangan di Menara Kudus Tandai Awal Ramadan

BETANEWS.ID, KUDUS – Menandai datangnya Ramadan, tradisi tabuh beduk Blandrangan atau sering disebut Dandangan, di Menara Kudus dilakukan Senin (12/4/2021) sore. Agenda tahunan ini, menjadi nostalgia tersendiri bagi masyarakat yang hadir.

Diawali dengan berdoa bersama di Tajuk yang dipimpin oleh sesepuh, kemudian para penabuh beduk Blandrangan yang berjumlah enam orang bersiap di bawah menara Kudus. Sambil menaiki tangga menara secara bergantian, mereka mengalunkan selawat.

Sementara itu, beberapa warga yang datang tampak berkumpul di depan Masjid Al Aqsa Kudus dan pelataran Makam Sunan Kudus untuk menunggu beduk ditabuh. Mereka juga terlihat menikmati jajanan yang telah disediakan.

Intip ketan, jajanan khas saat menunggu tabuh beduk Blandrangan. Foto: Nila Rustiyani
- Ads Banner -

Baca juga : Tradisi Dandangan Sambut Ramadan Ditiadakan Tahun Ini, Plt Bupati Kudus : ‘Saya Ndak Berani’

Setelah tiba waktunya, petugas penabuh beduk secara bergantian menunaikan tugasnya untuk menabuh beduk yang ada di bagian atas menara yang terlihat dari berbagai penjuru.

Dari enam orang itu, dua orang menabuh beduk dan yang empat melantunkan selawat. Begitu seterusnya secara bergantian hingga menjelang Magrib.

Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) KH EM Nadjib Hasan mengungkapkan, jika tradisi tabuh beduk Blandrangan dulunya dilakukan Sunan Kudus Syekh Ja’far Shodiq menandai datang Ramadan.

Menurutnya, dahulu saat Sunan Kudus mengumumkan awal Ramadan, akan menabuh beduk yang letaknya di atas Menara. Masyarakat sekitar menara pun ramai-ramai menyaksikan apa yang dilakukan Sunan Kudus tersebut.

Karena antusias masyarakat itulah, Sunan Kudus pun menyediakan makanan untuk orang-orang yang datang menyaksikan dan menyambut bulan Ramadan bersama-sama. Tradisi ini yang dinamakan tradisi Dandangan, diambil dari suara beduk yang ditabuh dan berbunyi ‘Dang-dang’.

“Tradisi Dandangan ini biasanya dilakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadan. Dulunya jajan-jajan khas Kudus disediakan di sini. Yang paling khas itu intip ketan, ” kata KH Nadjib Hasan.

Selain intip ketan, ada juga puli kothokan, pecel meniran, apem dan makanan khas Kudus lainnya.

Di masa pandemi Covid-19 yang belum reda ini, tradisi Dandangan ini, kata KH Nadjib diadakan secara formal. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. “Tahun ini tidak terlalu banyak, ini acara orang lokal Kudus. Ini pertama kali kita adakan secara formal,” katanya.

Maya, salah seorang warga yang mengaku hampir setiap tahun datang, merasa senang bisa menyaksikan tabuh beduk di Menara Kudus secara langsung. Ia berharap di bulan Ramadan tahun ini, dirinya bisa melewatinya dengan khusyuk.

“Rasanya seneng bisa lihat secara langsung tabuh beduk di menara. Biasanya kan ada dandangan, sekalian lihat beduk ditabuh. Harapannya Ramadan kali ini bisa berjalan dengan baik dan dilkasanakan dengan khusyuk, ” ungkapnya.

Pihaknya pun mengungkapkan, makanan yang tersedia kali ini berasal dari masyarakat sekitar menara dan para aktivis menara. Mereka lah yang membuat suasana Dandangan Kudus, masih bisa terasa kehangatannya.

Begitupun apa yang disampaikan oleh Dewi Mustika Sari. Perempuan muda yang pertama kalinya mencicipi intip ketan ini, merasa kalau rasa makanan khas Kudus ini enak dan gurih.

“Rasanya enak, gurih, dan nggak eneg. Karena ini memang jadi tradisi menjelang Ramadan, harapannya makanan tradisional ini tidak kalah dengan makanan cepat saji sekarang, ” tuturnya.

Baca juga : Hartopo Tutup Tempat Wisata dan Ziarah di Kudus, Dandangan Ditiadakan

Salah satu orang yang menyajikan makanan kahs Kudus, Nurlita mengungkapkan, bahwa apa yang ia buat ini hanya ada ketika menjelang bulan Ramadan saja. Yakni intip ketan. Makanan khas Kudus yang terbuat dari ketan dicampur dengam santan, kemudian ditaburi kelapa dan digoreng tanpa minyak.

“Ini ciri khasnya intip ketan. Intip berarti digoreng tanpa minyak dan digosongkan. Biar rasa dan baunya enak, sedap, ” ungkap perempuan yang tinggal tak jauh dari lingkup menara tersebut.

Editor : Kholistiono

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,023PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
62,220PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler