Omah Dongeng Marwah Kudus Buktikan Lulusan Paket C Bisa Tembus Kampus Top Indonesia

BETANEWS.ID, KUDUS – Omah Dongeng Marwah (ODM) di Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, membuktikan bahwa lulusan pendidikan nonformal melalui program Paket C tetap memiliki peluang besar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Komunitas pendidikan berbasis Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang berdiri sejak 2017 itu kini menjadi sorotan setelah salah satu alumninya, Tiyo Ardianto, berhasil menembus Universitas Gadjah Mada (UGM) dan bahkan dipercaya menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM.

Kepala Sekolah ODM Kudus, Edy Supratno mengatakan, sejak awal lembaga didirikan memang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata. ODM lebih menekankan pada proses menemukan dan mengembangkan bakat setiap siswa.

-Advertisement-

“Secara akademik kami tetap mengikuti kurikulum pemerintah, tetapi yang kami tekankan adalah menggali bakat mereka. Setelah bakatnya ketemu, kami beri ruang untuk berkembang,” ujar Edy usai menghadiri acara diskusi Imajinasi Reformasi Jilid 2 di Universitas Muria Kudus (UMK) belum lama ini.

Menurut Edy, pendekatan tersebut membuat siswa memiliki kebebasan untuk mengasah kemampuan di bidang yang mereka minati. Mulai dari seni, diskusi intelektual, hingga kegiatan organisasi.

Ia mencontohkan, pada angkatan pertama ODM terdapat empat siswa yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain Tiyo yang diterima di UGM, siswa lain juga diterima di Universitas Negeri Semarang (Unnes), Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan Universitas Kristen Indonesia (UKI).

Baca juga: Dulu Niat Mondok di Pesantren Bukan Kuliah, Begini Perjalanan Tiyo Ardianto Hingga Pimpin BEM UGM

“Bagi kami itu pencapaian yang luar biasa. Karena pada awalnya kami sendiri belum yakin apakah lulusan dari komunitas belajar seperti ini bisa bersaing di perguruan tinggi,” beber Edy.

ODM sendiri lahir dari gagasan menghadirkan ruang belajar alternatif yang lebih fleksibel bagi siswa. Status PKBM dipilih, tuturnya, agar proses pendidikan tetap diakui secara legal oleh negara melalui program Paket C.

Menurut Edy, label Paket C sering kali mendapat stigma negatif di masyarakat. Banyak orang menganggap jalur tersebut hanya sekadar cara mendapatkan ijazah tanpa proses belajar yang serius.

Padahal, kata dia, ODM justru menggunakan program Paket C sebagai pintu legalitas agar siswa tetap dapat mengikuti ujian negara dan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

“Bagi kami Paket C itu hanya cantolan agar diakui negara. Yang penting anak-anak tetap belajar, menemukan bakatnya, dan berkembang,” jelasnya.

Saat ini ODM membina sekitar 25 siswa yang mengikuti kegiatan belajar dari Senin hingga Jumat. Selain pelajaran akademik, siswa juga dilatih berdiskusi, membuat karya kreatif, hingga belajar mengorganisasi kegiatan.

Edy berharap keberhasilan para alumninya bisa mengubah pandangan masyarakat terhadap pendidikan nonformal. Ia menilai komunitas belajar seperti ODM dapat menjadi alternatif bagi siswa yang ingin mengembangkan potensi mereka di luar sistem sekolah konvensional.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER