31 C
Kudus
Rabu, Februari 28, 2024

Jelang Nyepi, Umat Hindu di Ngaru-Aru Boyolali Akan Arak Ogoh-Ogoh Setinggi 4,5 Meter

BETANEWS.ID, BOYOLALI – Menjelang Hari Raya Nyepi 2022, umat Hindu Desa Ngaru-aru, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali tengah mempersiapkan upacara Mecaru. Dalam ritual keagamaan itu, ada salah satu hal yang menarik, yakni pengarakan Ogoh-ogoh.

Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Desa Ngaru-Aru, Heru Kuncoro menjelaskan, sebelum prosesi arak-arakan Ogoh-ogoh, umat Hindu melaksanakan upacara Mecaru di masing-masing pura.

“Kirab Ogoh-ogoh nanti diawali dengan upacara mulai pukul 17.00 WIB dan berlansgung selama satu jam. Pelaksanaan arak-arak ogoh-ogoh itu dilakukan di saat-saat sandikawan, kalau orang Jawa katakanlah maghrib,” jelasnya, Rabu (2/3/2022).

Baca juga: Tanamkan Kecintaan Terhadap Budaya, SMB Cakra Purbakara Adakan Latihan Gamelan

Heru menjelaskan, ogoh-ogoh diibaratkan sebagai simbol sifat serta energi buruk yanng berhububngan dengan alam semesta, ataupun dalam diri manusia. Maka dari itu, ogoh-ogoh selalu disimbolkan dengan wujud yang mengerikan.

“Sehingga perlu adanya pemusnahan atau perlu adanya yang harus dihilangkan. Salah satunya kalau di acara Mecaru itu setelah ogoh-ogoh diarak, baru nanti terus dimusnahkannya dibakar itu,” paparnya.

Nantinya, sebelum dibakar, ogoh-ogoh akan diarak mengelilingi jalan dan pura di Desa Ngaru-Aru. Adapun pura di desa tersebut yakni Pura Buana Suci Saraswati.

Patung tersebut memiliki tinggi sekitar 4,5 meter dan memiliki berat hingga satu kuintal. Ogoh-ogoh dibuat dengan kerangka menggunakan bahan rotan dan besi. Kemudian dilapisi dengan kertas koran, lalu dilapisi lagi dengan bagan gypsum sehingga membuat tekstur patung menjadi rata.

Setelah melalui beberapa proses tadi, barulah patung ogoh-ogoh dicat sesuai dengan konsep yang diinginkan.

Baca juga: Lepas Burung Pipit, Tradisi Imlek Warga Tionghoa untuk Buang Sial

“(Ogoh-ogoh) ini dibuat dari awal Januari, yang buat muda-mudi Hindu yang ada di sini sekitar 25 orang lah. Desainernya juga muda-mudi sini. Rencananya nanti akan diangkat 16 orang,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Heru mengungkapkan bahwa upacara dengan membakar ogoh-ogoh ini baru empat kali dilakukan di desa tersebut. Bahkan, upacara dengan menggunakan ogoh-ogoh tersebut pun harus absen selama pandemi kemarin.

“Ini pun kemarin seandainya nggak dapat izin untuk diarak. Ya di lingkungan pura ini terus langsung dibakar. Tapi ini sudah dapat izin,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
6,574PengikutMengikuti
129,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER