BETANEWS.ID, KUDUS – Pohon beringin besar yang berada di Taman Menara di Jalan Sunan Kudus, Desa Langgardalem, Kecamatan Kudus itu terlihat dimanfaatkan beberapa santri untuk berteduh. Mereka terlihat asyik bercengkerama di tengah riuhnya lalu lalang peziarah Makam Sunan Kudus. Tak jauh dari mereka, puluhan tukang ojek wisata tampak hilir mudik mengantarkan para peziarah itu menuju Terminal Bus Bakalankrapyak.
Meski zaman terus berubah, tapi keberadaan Taman Menara itu selalu jadi pusat keramaian. Bahkan, sebelum Alun-Alun Kudus berada di depan kantor Bupati Kudus, dulunya tempat itu merupakan alun-alun pertama di Kota Kretek.
Sejarawan Kudus, Sancaka Dwi Supani menjelaskan, saat era Kerajaan Demak, Kudus dipimpin oleh Sayyid Ja’far Shadiq. Di masa sebelum penjajahan Belanda itu, pusat pemerintahan berada sebelah barat Sungai Gelis, tepatnya di kawasan Menara Kudus.
Baca juga: Masjid Madureksan, Pengadilan di Zaman Sunan Kudus yang Lebih Tua dari Masjid Menara
“Sama dengan masa sekarang, pada masa Kasunanan dulu pusat pemerintahan juga ada alun-alunnya. Dulu Alun-Alun Kudus ya Taman Menara itu,” ungkapnya, Kamis (27/1/2022).
Pani mengungkapkan, bukti kuat bahwa Taman Menara dulunya alun-alun yakni keberadaan pohon beringin. Menurutnya, pohon beringin merupakan ciri arsitektur alun-alun Jawa yang punya makna mengayomi.
“Pohon beringin itu kan bisa tumbuh besar dan daunnya lebat. Terasa rindang dan sejuk saat di bawahnya, sehingga terasa ayem. Karena memang setiap alun-alun di Jawa dulu ditanami pohon beringin sebagai simbol mengayomi,” beber Pani.
Di alun-alun itulah, lanjutnya, Segala kebijakan Sunan Kudus diumumkan kepada warga. Di alun-alun itu juga dulu biasanya jadi tempat pemberian hukuman bagi pelanggar adat dan agama, yang bisa disaksikan warga.
Baca juga: Sejarah Masjid Langgardalem: Dibangun Sunan Kudus, tapi Tak Digunakan untuk Salat Jumat
“Tujuannya agar warga lain tidak meniru perbuatan orang yang dihukum itu. Di alun-alun itu juga jadi pusat keramaian dan hiburan rakyat yakni dandangan, sekaligus sebagai tempat warga menunggu informasi tentang awal puasa Ramadan yang biasanya disampaikan oleh Sunan Kudus,” bebernya.
Menurut Pani, alun-alun dan pusat pemerintahan itu kemudian berpindah saat masa Kolonial Belanda ke tempat yang sekarang. Alun-alun lama Kudus itu pun sempat dijadikan tempat parkir kendaraan para peziarah.
“Saat itu keadaan alun-alun lama Kudus keadaannya sangat memprihatinkan. Hingga Pemkab Kudus mengembalikan alun-alun lama sebagai ruang terbuka hijau dan membangunnya seperti sekarang ini,” tutup Pani.
Editor: Ahmad Muhlisin

