31 C
Kudus
Selasa, Juni 28, 2022
spot_img
BerandaKISAHKisah Ruchayah yang...

Kisah Ruchayah yang Sudah Ciptakan Ribuan Corak Bordir Khas Kudus Sejak 1962

BETANEWS.ID, KUDUS – Usia memang tak menghalangi seseorang untuk berkarya. Hal itulah yang terus jadi pedoman Ruchayah pemilik Bordir Cahaya Indah dari Desa Janggalan, Kecamaatan Kudus. di usianya yang menginjak 70 tahun, Ruchayah tak pernah berhenti menciptakan corak-corak bordir khas Kudus yang jadi andalannya.

Satu hal yang membuat bordirnya begitu spesial adalah, corak yang diciptakan untuk pelanggannya itu bersifat khusus atau satu corak satu pembeli. Bahkan, sampai sekarang ia sendiri yang menggambar corak itu meski sudah ada anaknya yang akan mewarisi bisnisnya. Tak heran jika sejak dirintis pada 1962, ia sudah menciptakan ribuan corak.

Seorang pegawai Bordir Cahay Indah sedang menyelesaikan pembuatan bordir. Foto: Kartika Wulandari.

“Keunggulan kami ada pada coraknya, karena setiap pembeli selalu saya buatkan satu corak khusus. Jadi tidak ada kembaranya. Bahkan kadang saya membuat coraknya langsung di kainya tanpa mengambar dahulu (teknik rujab),” ujarnya saat ditemui, Senin(17/01/2022).

- Ads Banner -

Baca juga: Bordir Cahaya Indah Janggalan, Langganan Presiden Soeharto yang Sudah Ciptakan Ribuan Corak

Ruchayah mengaku belajar membordir sejak umur 10 tahun kepada ibunya yang berprofesi sama. Kemudian, setelah menikah di usia 13 tahun, ia mulai merintis usaha bordir dengan membuat kerudung.

Usaha bordirnya itu mulai naik ketika tahun 1965 atau saat ada Gerakan September tiga puluh (Gestapu), rakyat diwajibkan mengenakan penutup kepala.

“Di zaman itu, perempuan diwajibkan menggunakan penutup kepala. Dulu kita bisa memproduksi ratusan kerudung bordir tiap harinya. Bahkan dulu saya mempunyai ratusan karyawan,” ungkapnya.

Kemudian, setelah zaman Gestapu, bordir buatannya pun semakin maju, karena Ruchayah mengikuti berbagai macam pameran, yang membuat bordir buatannya diminati oleh kalangan pejabat negara.

Baca juga: Kisah Sukses Siska Nuna, Agen MS Glow Pertama di Kudus yang Kini Punya 70 Member

“Setelah agak maju, saya mulai mengikuti pameran di Semarang. Di situ penjualan semakin naik. Bahkan Presiden Soeharto dan Bu Tin pun pernah memesan bordir buatan saya,” tandasnya.

Di tempatnya, bordir itu bisa diaplikasikan di kebaya, hem, koko, mukena, selimut bayi, gamis, dan masih banyak lagi. Bahkan, Ruchayah juga bisa membuat brodir menggunakan teknik rujab, yaitu mengambar corak langsung dari kain menggunakan benang.

“Untuk kisaran harganya mulai dari Rp200 ribu hingga Rp3,5 juta, tergantung tingkat kesulitan bordir,” tandas Ruchayah.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,332PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler