BETANEWS.ID, KUDUS – Deretan baju bordir aneka warna dan corak tampak tertata rapi di rumah bagian tengah milik Ruchayah (70) di Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Pakaian wanita itu ada yang sudah jadi, ada juga yang masih dalam tahap pembordiran.
Rumah yang jadi jujugan pecinta bordir khas Kudus sejak 1962 itu memang selalu ramai dengan aktivitas pembuatan kebaya, gamis, dan lain sebagainya. Pesanan-pesanan itu tak hanya datang dari Kudus saja, karena pihaknya sudah pernah kirim hingga Malaysia.

Ruchayah menjelaskan, di usaha yang sudah dijalaninya selama 60 tahun itu, dirinya telah menciptakan ribuan corak bordir sesuai pesanan pembeli. Bahkan, corak-corak itu tak jarang dibuat khusus atau limited edition untuk pelanggannya yang kebanyakan pejabat. Pelanggan setianya itu datang dari berbagai wilayah di Indonesia, hingga Presiden Soeharto.
Baca juga: Kebaya Encim dari Raff Bordir Banyak Diminati Konsumen Hingga Luar Negeri
“Kalau ditotal sudah ada ribuan corak yang saya ciptakan. Corak yang paling laris antaranya bunga tempel, borobudur, dan motif cecek,” bebernya, Senin(17/01/2022).
Menurutnya, keunggulan yang dimiliki Bordir Cahaya Indah terdapat pada prosesnya. Dalam tahap pembuatan, dirinya memilih menggunakan mesin jahit icik yang bisa membuat jahitan lebih kuat dan tahan lama.
“Dengan menggunakan teknik icik, bordir yang kita hasilkan benangnya akan lebih kuat, rapi, dan bisa bertahan lama,” jelasnya.
Baca juga: Bordir Kudus Desain Kekinian di Djasmine Bordir Ini Digemari Anak Muda Hingga Pejabat
Bordir itu bisa diaplikasikan di kebaya, hem, koko, mukena, selimut bayi, gamis, dan masih banyak lagi. Bahkan, Ruchayah juga bisa membuat brodir menggunakan teknik rujab, yaitu mengambar corak langsung dari kain menggunakan benang.
“Untuk kisaran harganya mulai dari Rp200 ribu hingga Rp3,5 juta, tergantung tingkat kesulitan bordir,” tandas Ruchayah.
Editor: Ahmad Muhlisin

