BETANEWS.ID, SOLO – Kepala Pelaksanaan Harian BPBD Solo Nico Agus Putranto membeberkan 15 kelurahan rawan bencana di Solo. Meski berada di daerah kategori rendah menuju sedang, tapi potensi bencana tetap ada. Adapaun ancaman bencana itu adalah banjir, angin kencang, dan juga tanah longsor.
“Yang paling kita perhatikan di banjir, dan angin kencang di Solo kemarin masih tergolong rendah sedang,” kata Nico usai apel kesiapsiagaan penanggulangan bencana di Balai Kota Solo, Rabu (17/11/2021).

Menurutnya, kecamatan yang punya potensi terjadi bencana berupa banjir adalah Kecamatan Pasar Kliwon yang bersinggungan langsung dengan Sungai Bengawan Solo. Mengingat, di wilayah tersebut pernah terjadi banjir dengan ketinggian 20 sampai 50 sentimeter, tapi cuma terjadi dalam 30 menit.
Baca juga: Hadapi Cuaca Ekstrem Desember-Februari, Ganjar Minta Semua Siaga Bencana Sampai April
“Pasar Kliwon itu kalau kita petakan ada di 5 titik. Kemarin yang sudah terjadi 20 sampai 50 sentimeter air yang masuk ke rumah. Tapi kemarin durasinya tidak lama. Alhamdulillah cuma setengah jam sudah surut lagi,” ungkapnya.
Wali kota Solo Gibran Rakabuming Raka menambahkan, kesiapsiagaan menghadapi bencana alam penting dilakukan. Ia juga meminta kepada warga agar berhati-hati saat menghadapi cuaca ekstrem. Selain banjir dan tanah longsor, ia juga telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo untuk menangani pohon yang rawan tumbang.
“Tadi sudah kita identifikasi yang paling rawan itu pohon Angsana rawan tumbang. La ini kita lakukan pemotongan ranting yang agak ekstrim karena memang rawan tumbang. Tapi pohon ini juga cukup cepet juga tumbuhnya jadi kita tidak mengurangi RTH (Ruang Terbuka Hijau),” kata Gibran.
Baca juga: Antisipasi Bencana, BPBD Jateng Pastikan EWS di Berbagai Lokasi Berfungsi Baik
Hingga saat ini, diketahui sudah ada delapan kejadian pohon tumbang. hal tersebut tentunya disebabkan hujan deras dan angin kencang yang tidak menentu.
“Ya insyaAllah bisa kita antisipasi semua ya kepada seluruh warga Kota Solo hati hati kalau di jalan, pas hujan deres ngiyup (meneduh) dulu lah kalau bisa,” imbau Gibran.
Editor: Ahmad Muhlisin

