31 C
Kudus
Rabu, Desember 8, 2021
spot_img
BerandaKUDUSPengakuan Mahasiswi UMK...

Pengakuan Mahasiswi UMK Pernah Alami Pelecehan dari Wakil Rektor I: ‘Saya Dibilang Perempuan Tidak Benar’

BETANEWS.ID, KUDUS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muria Kudus (UMK) melakukan audiensi dengan Bupati Kudus Hartopo dan Ketua Yayasan Pengurus UMK Wahyu Wardhana di Pendapa Kabupaten Kudus, Jumat (8/10/2021). Berbagai persoalan yang ada di UMK disampaikan pada kesempatan tersebut oleh mahasiswa.

Salah satu persoalan yang mencuat adalah adalah adanya intimidasi dan pelecehan. Pada kesempatan itu, dua orang mahasiswi menceritakan pernah mendapatkan pelecehan dan intimidasi dari Wakil Rektor 1 UMK Sulistyowati, yang disebut hanya akibat persoalan sepele.

Seorang mahasiswi menceritakan, ketika itu ada mata kuliah yang diampu Sulistyowati. Karena informasinya sang dosen sedang takziyah, kemudian ia dan temannya memilih keluar kelas dan istirahat di ruang BEM.

Bupati Kudus Hartopo saat menerima audiensi mahasiswa UMK. Foto: Ist
- Ads Banner -

Baca juga : Mahasiswa Tuntut Rektor UMK dan 3 Wakilnya Mundur

“Jadi, setelah absen saya pilih keluar kelas dan istirahat di kantor BEM. Dan ternyata Bu Sulis datang mengajar. Kemudian, ada teman kami yang memfoto kami dan melaporkan ke Bu Sulis, bahwa kami tidak masuk kelas dan malah tiduran di ruang BEM Fakultas,” cerita mahasiswi yang tidak mau disebutkan namanya.

Buntutnya, Sulistyowati memanggil mahasiswi tersebut dan memarahinya. Di hadapan teman-teman mahasiswa, ia mengaku disidang dan dipermalukan. Bahkan, katanya, Sulistyowati disebut melakukan pelecehan verbal dan intimidasi mental kepada dirinya.

“Saya dibilang perempuan tidak benar, tak pantas pakai jilbab hingga disuruh lepas jilbab saja. Bahkan, sampai orang tua saya disinggung-singgung. Itu kejadiannya pas makul (mata kuliah) semester 3,”ujarnya.

Selain itu, dirinya juga dikasih nilai E atau nol pada mata kuliah Sulistyowati. Padahal menurutnya, dia sering masuk dan mengikuti kuliah. “Di semester selanjutnya, pada mata kuliah yang dosennya Bu Sulis, saya dikasih C,” imbuhnya.

Kemudian, adanya kejadian itu, mahasiswi tersebut sempat melaporkan ke rektorat. Namun, belum ada tindakan atau sanksi kepada yang bersangkutan.

“Oleh karena itu, kami mohon Bapak Bupati dan ketua Yayasan UMK agar bisa memberi perhatian atas masalah ini,”katanya.

Menanggapi hal ini, Bupati Kudus HM Hartopo menegaskan, bahwa intimidasi di area kampus tidak dibenarkan. Sebab, kampus adalah tempat mahasiswa belajar untuk mencapai cita-cita. Sivitas akademika harus bersinergi menciptakan kondusifitas, sehingga mahasiswa nyaman untuk belajar dan berorganisasi.

Hartopo mendukung berbagai evaluasi, sehingga UMK menjadi tempat yang kondusif untuk belajar dan lebih maju.

“Kampus itu kan tempat para mahasiswa belajar dengan nyaman. Jadi, adanya oknum dosen yang mengintimidasi mahasiswa sangat disayangkan,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pembina UMK J Wahyu Wardhana mengucapkan terima kasih kepada Bupati Kudus yang telah mendengarkan aspirasi dari para mahasiswa. Pihaknya akan menindaklanjuti hal tersebut untuk diteruskan kepada Rektor, terkait laporan mahasiswa.

Wahyu pun siap melindungi mahasiswa dari intimidasi kampus, apabila terdapat pemberitaan negatif dari media massa.

“Kami akan tindaklanjuti ke Rektor terkait laporan mahasiswa. Kami juga siap melindungi mahasiswa, kalau sampai ada intimidasi dari kampus terkait pemberitaan negatif media setelah pertemuan hari ini,” paparnya.

Baca juga : Bupati Kudus Sayangkan Adanya Intimidasi Oknum Dosen UMK Terhadap Mahasiswa

Pihaknya juga akan segera membentuk kanal aspirasi bagi mahasiswanya. Hal tersebut dilakukan menyusul ditemukannya sejumlah laporan, di mana banyak mahasiswa merasa dirugikan baik oleh sistem maupun pejabat di dalamnya.

“Untuk melindungi mahasiswa dari intimidasi dan pelecehan, nanti akan kami buatkan kanal aspirasi bagi mereka untuk bersuara dan mengungkapkan yang terjadi,” katanya.

Ketika nanti mahasiswa melapor di kanal aspirasi, maka akan ditindaklanjuti segera oleh pihak yayasan. Sehingga permasalahan bisa segera terungkap.

Editor : Kholistiono

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
70,075PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler