BETANEWS.ID, SOLO – Penyandang disabilitas di Kota Solo menciptakan tempat sampah elektrik yang dilengkapi dengan sensor dan berbasis internet.
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menyampaikan, tempat sampah elektrik buatan difabel yang tergabung dalam komunitas Difa Elektra tersebut sangat menginspirasi dan inovatif.
Gibran berencana akan membantu pemasaran tempat sampah elektrik tersebut. “Selama ini kan masih kita bantu di sisi produksinya saja. Nanti kami bantu di sisi marketingnya. Ini sangat menginspirasi dan inovatif, produknya juga bukan cuma itu tok,” tutur Gibran.
Baca juga : Ganjar Semangati Grup Band See With Heart Asal SMKN 8 Surakarta yang Anggotanya Mayoritas Difabel
Koordinator Tim Difa Elektra Heru Sasongko mengungkapkan, tempat sampah canggih tersebut sebenarnya sudah dibuat sejak 2019 lalu, namun terkendala dalam pemasaran. Padahal, inovasi tersebut mendapatkan beberapa penghargaan.
“Kami terpilih sebagai salah satu dari 113 produk inovasi Indonesia. Sebelumnya ada 5.000 peserta. Kemudian kami juga berhasil masuk dalam program inkubasi Kemenristek Dikti, dari 1.000 penemuan di Indonesia kita masuk 80 besar, akhirnya kita bisa masuk ke Solo Technopark,” ujarnya, usai melakukan audiensi dengan Gibran.
Tak hanya itu, komunitas difabel ini juga masuk Inovasi Indonesia yang membawa Solo menempati posisi ke 13 dari total 5.700 peserta. Setelah dapat masuk ke Solo Technopark, kemudian temuan tersebut terus dikembangkan agar lebih bagus lagi.
Ide dalam pembuatan tempat sampah elektrik tersebut, katanya, berawal dari pemikiran untuk memudahkan dalam membuang sampah. Terlebih pada masa pandemi, masyarakat dituntut untuk lebih higienis. Dengan alat tersebut, pengguna tidak perlu membuka tutup tempat sampah secara manual, karena sudah otomatis.
“Yang kedua, teman-teman disabilitas yang pakai kursi roda atau tongkat, kalau harus pencet-pencet pakai kaki kan nggak bisa. Kalau pakai alat ini gampang,” tuturnya.
Heru mengungkapkan, alat tersebut merupakan hasil temuan dari disabilitas yang yang tergabung dalam Komunitas Difa Electra. Di komunitas tersebut, terdapat beberapa orang yang ahli dalam bidang robotik dan elektro.
“Dari jarak 50 cm, tempat sampah ini bisa buka sendiri, terus ada suara ucapan terima kasih setelah membuang sampah di sini. Kemudian kalau penuh, dia tidak mau buka dan otomatis mengirim pesan ke aplikasi ke petugas sampah kalau tempat sampah penuh, jadi nggak sampai berjubel-jubel,” paparnya.
Baca juga : Mensos Risma Bakal Bangun Rusunawa di Solo
Tempat sampah tersebut memiliki berbagai macam ukuran, salah satunya dapat menampung sampah sebanyak 5 kubik. Kendati demikian, Heru mendapatkan arahan dari Triawan Munaf saat beberapa waktu lalu berkunjung ke Solo Technopark agar mengganti sensor dengan yang tahan air.
“Indonesia baru kita yang punya dan yang bikin teman-teman disabilitas. Sehingga kita minta tolong Mas Gibran untuk bantu komunikasi ke atas dan pemasarannya,” ujarnya.
Heru mengatakan, tempat sampah elektrik tersebut mulai dijual dengan harga Rp 5 jutaan.
Editor : Kholistiono

