Dia pun kemudian memberi contoh cara-cara promosi rokok kretek Bal Tiga milik eyangnya. Pada masa itu Nitisemito secara rutin mengikuti pasar rakyat, dengan sponsor utamanya Rokok Kretek Bal Tiga. Selain itu juga membranding kendaraan distribusi dengan produk rokok kreteknya. Ada juga penjual es keliling, yang wadahnya dibranding dengan logo Rokok Kretek Bal Tiga.
Tak hanya itu, rokok Bal Tiga juga melakukan promosi berhadiah. Pembeli bisa mendapatkan hadiah sepeda ketika membeli rokok Bal Tiga dengan jumlah tertentu. Selain itu, rokok Bal Tiga juga sering menyeponsori konser grup musik terkenal pada zaman itu. Membuat merchandise yang dihadiahkan kepada pembeli. Serta memiliki klub sepak bola dan stasiun radio untuk pemasaran.

“Oh ya, Eyang Niti juga pernah menyewa pesawat yang tentu harganya tidak murah, hanya untuk menyebar brosur rokok kretek Bal Tiga. Cara-cara pemasaran tersebut masih digunakan oleh perusahaan-perusahaan top di Indonesia hingga sekarang,” bebernya.
Tidak hanya cara promosi, Tutur Wawang, sebagai seorang pengusaha, Nitisemito punya intuisi tajam yang seolah sudah mengetahui sebelum seuatu hal terjadi. Dia bercerita, pada masa itu produksi rokok kretek, cengkeh yang dijadikan bahan utama selain tembakau itu harus impor dari Madagaskar. Sebab dari negara tersebutlah cengkeh dengan kualitas terbaik dihasilkan.
Pada tahun 1926, kata Wawang, tak ada angin dan tak ada hujan, tiba-tiba kakeknya memberi perintah agar perusahaan rokok kretek Bal Tiga memborong cengkeh sebanyak-banyaknya. Berapa pun setok yang ada di importir diminta untuk membeli semua. Hingga setahun berselang, tepatnya pada 1927/1928, wabah penyakit melanda Madagaskar.
“Karena wabah tersebut, produksi cengkeh di Madagaskar anjlok, dan otomatis berakibat pasokan cengkeh dalam negeri langka,” ungkap anak kelima dari Soemadji Nitisemito tersebut.
Meskipun pasokan cengkeh langka, tambahnya, Nitisemito berpesan kepada menantunya bernama Karmain, yang saat itu menjabat sebagai pemimpin perusahaan, agar porsi cengkeh dalam produksi Rokok Bal Tiga tidak dikurangi. Saat itu, perusahaan-perusahaan rokok lain kelimpungan.

Perusahaan lain, kata Wawang, mengakali dengan cara mengurangi porsi cengkeh sehingga membuat cita rasa rokok berkurang. Ada juga perusahaan yang menaikkan harga jual rokok, sehingga akibatnya pelanggan beralih ke rokok lain.
“Sedangkan, rokok Bal Tiga milik Eyang Nitisemito tetap produksi seperti biasa, dengan cita rasa dan harga tetap sama. Perusahaan Rokok Bal Tiga Eyang tidak terpengaruh dengan langkanya cengkeh,” tutur Wawang.






