Lalu lintas di Jalan Sunan Kudus, Kabupaten Kudus tampak ramai. Sejumlah kendaraan berlalu lalang melintasi sebuah rumah dengan desain kuno, tak jauh dari Sungai Gelis. Rumah tersebut, tak lain adalah rumah kembar, yang dulu dibangun Raja Kretek asal Kudus, Nitisemito.

Rumah kembar yang atapnya masih tampak bekas logo Bal Tiga tersebut, dibangun di sisi selatan Jalan Sunan Kudus itu, dibangun oleh Nitisemito di Desa Langgar Dalem di sisi barat, dan di Desa Demaan di sisi timur. Sebagai pengusaha sukses dan terpandang pada masanya (sebelum kemerdekaan).

Yudi Ernawan sedang menunjukkan foto anak-anak Nitisemito. Foto: Kaerul Umam

Kepada Tim Liputan Khusus Beta News, Yudi Ernawan Soemadji, cucu Nitisemito, mengatakan kakeknya membangun rumah megah tersebut itu untuk kedua putrinya, yaitu Nahari dan Nafiah. Pada masanya, rumah kembar milik Nitisemito itu sangat mentereng dibanding dengan bangunan lain di Kudus, terlebih untuk ukuran rumah hunian.

“Ini Bu Nahari, pemilik rumah kembar di sisi timur Sungai Gelis, dan ini Bu Nafiah, pemilik rumah kembar di sisi barat,” ujar Wawang, panggilan akrab Yudi Ernawan, sambil menunjukkan foto bergambar Nahari dan Nafiah saat pernikahan Soemadji, ayahnya.

Dia menjelaskan, dalam foto yang dia tunjukkan itu, tampak Nahari dan Nafiah didampingi para suaminya. Nahari memiliki suami bernama Umar Sadi, dan Nafiah memiliki suami bernama Karmain.

Ini Bu Nahari, pemilik rumah kembar di sisi timur Sungai Gelis, dan ini Bu Nafiah, pemilik rumah kembar di sisi barat

Yudi Ernawan, Cucuc Nitisemito

“Nah, Pak Karmain ini adalah kuasa yang diberi kepercayaan Eyang Nitisemito untuk mengelola usaha rokok Bal Tiga. Namanya juga tertulis di bungkus rokok Bal Tiga saat itu,” tutur Wawang.

Saat ditemui terpisah di Museum Kretek, Novi, petugas di museum tersebut mengatakan, rumah kembar diberikan kepada kedua putri dari istri pertama Nitisemito yang yaitu Nasilah. Menurutnya, Nitisemito memberikan rumah mewah kepada dua putrinya karena mereka lah yang ikut merasakan masa-masa sulit.

“Kedua putri dari istri pertama ini kan yang merasakan masa-masa sulit merintis usahanya. Jadi beliau membuat rumah kembar itu untuk ke dua putrinya,” terang Novi sapaan akrabnya.

Novi juga menjelaskan, rumah kembar itu digunakan Nitisemito untuk menerima tamu dari luar kota. Hingga saat ini, rumah yang berada di sebelah timur Sungai Gelis sudah beberapa kali pindah tangan.

“Satunya masih milik keluarga Nitisemito, tetapi yang sebelah timur Kali Gelis sudah beberapa kali pindah tangan,” tambahnya.

Sementara itu, menurut sejarawan Kudus, Edy Supratno, rumah tersebut dibangun sekitar tahun 1920. Saat itu, Nitisemito telah muncul sebagai pengusaha yang sukses. Dia telah memiliki pabrik rokok yang besar, yang dibangun di dekat Sungai Gelis. Selain itu, pabrik rokoknya juga ada di lokasi, yang kini menjadi markas Kodim Kudus.

“Masa kejayaan Mbah Niti mulai sekitar tahun 1920-an. Pada masa-masa itulah, dia membangun rumah kembar untuk kedua putrinya. Puncak kejayaan Mbah Niti sekitar tahun 1936 hingga tahun 1938,” terang Edy kepada Tim Liputan Khusus Beta News.

Tinggalkan Balasan