Di sebuah rumah tak jauh dari Sungai Gelis, Dukuh Jagalan, Desa Langgar Dalem, Kota, Kudus, seorang lelaki paruh baya sedang membuka file-file foto dan buku yang ada di depannya. Dia terlihat antusias saat melihatkan datanya tersebut kepada Tim Liputan Khusus Beta News, untuk menggali informasi tentang Raja Kretek Nitisemito. Termasuk berkisah tentang usaha perintis rokok kretek di Kudus itu, sebelum mendirikan perusahaan rokok dengan merek Bal Tiga.

Yudi Ernawan Soemadji, cucu Nitisemito. Foto: Kaerul Umam

Pria tersebut adalah Yudi Ernawan Soemadji, orang-orang akrab memanggilnya Wawang. Dia tak lain adalah cucu Sang Raja Kretek. Dia meceritakan, kegigihan mendiang kakeknya itu dalam berwirausaha tidak diragukan lagi. Namanya pun tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia khususnya.

Sebelum kakeknya terjun usaha rokok kretek, kata Wawang, Nitisemito merupakan anak dari lurah di Jagalan pada masa itu. Sebelum bergelut dengan dunia usaha, Nitisemito dijadikan carik atau sekertaris desa. Namun, tak berselang lama, dirinya memilih mengundurkan diri karena merasa tak nyaman.

Sebenarnya mbah buyut tidak mempersalahkan kegagalan usaha yang dijalani Eyang Niti. Namun karena Eyang takut dan tidak enak hati, beliau tidak berani pulang ke Kudus

Yudi Ernawan Soemadji, cucu Nitisemito

“Tak berselang lama menjabat di pemerintahan desa, eyang tidak nyaman bekerja sebagai Carik. Kemudian beliau berhenti dan memilih untuk berwirausaha,” beber Wawang, anak ke-12 Soemadji (putra Nitisemito), beberapa waktu lalu.

Singkat cerita, lanjut Wawang, Nitisemito memulai berwirausaha kecil-kecilan dengan modal dari sang ayah. Dia merantau ke Jawa Timur, tepatnya ke Mojokerto, untuk membangun bisnis konveksi. Saat itu, dirinya membuat celana kolor untuk petani. Namun, bisnis yang dibangunnya itu gagal, dan tidak berani pulang karena takut pada ayahnya.

“Sebenarnya mbah buyut tidak mempersalahkan kegagalan usaha yang dijalani Eyang Niti. Namun karena Eyang takut dan tidak enak hati, beliau tidak berani pulang ke Kudus,” katanya.

Mengetahui usaha yang dijalannya anaknya tidak berahasil, kata Wawang, ayah Nitisemito kemudian mengutus seseorang untuk membujuk anaknya agar pulang ke Kudus. Setelah bersedia pulang, dirinya diminta ayahnya kembali untuk menjadi carik. Namun, lagi-lagi dirinya tidak betah bekerja di balik meja.

Tinggalkan Balasan