BETANEWS.ID, SOLO – Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka geregetan mendapati banyak lulusan sekolah Vokasi atau SMK belum terserap di dunia kerja. Menurut Gibran, tak terserapnya lulusan SMK ini muncul karena tidak adanya kesesuaian antara kebutuhan industri dengan skill yang dipelajari oleh anak didik.
Makanya, ia mendorong sekolah kejuruan menyesuaikan kurikulum dengan industri agar sekolah tak menjadi pabrik pencetak pengangguran. Selain itu, dengan kurikulum yang terintegrasi dengan industri, siswa setelah lulus bisa langsung kerja tanpa harus ada pelatihan lagi.
“Kita benar-benar ingin apa yang dipelajari adik-adik itu sesuai yang diperlukan dunia industri. Jadi setelah sekolah bisa langsung kerja, tidak perlu ditraining lagi atau selesai sekolah bisa langsung jadi wirausaha dengan skill yang mereka dapat di sekolah, ini yang paling penting,” tuturnya, Kamis (9/9/2021).
Baca juga: Gibran Sarankan Sertifikat Vaksin Tidak Dicetak untuk Antisipasi NIK Bocor
Oleh karena itu, Gibran berpesan kepada partner industri yang sudah kerja sama agar bisa meluangkan waktunya untuk memberikan update terbaru. Agar, semua SMK tidak ketinggalan dengan teknologi-teknologi terbaru yang digunakan industri.
“SMK ini bukan kewenangan wali kota. Tapi kalau ada warga Solo yang nganggur, yang kena wali kotanya. Kita tidak ingin SMK jadi pabrik pencipta pengangguran,” kata Gibran.
Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Wikan Sakarinto, menambahkan, sejalan dengan ide Gibran, saat ini beberapa industri di Indonesia sebenarnya sudah membentuk konsorsium untuk mendukung pembelajaran di SMK.
“Harapannya jangan berhenti pada penguatan infrastruktur fisik, nanti kita tunggu inovasi guru, SDM dan kepala sekolah, kurikulumnya itu lebih penting. Sehingga link and match antara sekolah dengan industri, kita memberikan pancing bukan ikan. Kita tunggu pancing ini menghasilkan teaching factory yang produktif,” jelas Wikan.
Baca juga: Usai Vandalisme Jadi Sorotan, Kini Marak Poster Kritik Pemerintah di Solo
“SMK ada 14 ribu swasta dan negeri dan sebagian sudah sesuai seperti yang kita harapkan. Sebagian malah sudah bagus banget. Seperti SMK Muhammadiyah Gondang Legi, itu sudah banyak meghasilkan start up kalau kuliah ke Turki dan lain sebagainya,” ujarnya.
Kendati demikian, Wikan mengatakan bahwa masih ada beberapa SMK yang masih perlu dikembangkan lebih dalam. Menurutnya, dalam pengembangan tersebut sangat diperlukan lagi SDM seperti kepala sekolah serta guru pengajar yang mumpuni.
Editor: Ahmad Muhlisin

