BETANEWS.ID, KUDUS – Muhammad Septi Anggoro (18) tampak cekatan menyiapkan cilok pesanan pembeli di lapal pinggir jalan Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Bersama satu orang temannya, mereka bahu-membahu melayani pembeli yang cukup ramai siang itu.
Di usia belianya itu, Angga, begitu ia akrab disapa, nekat berjualan demi bisa membantu ibunya yang kini jadi orang tua tunggal, selepas kepergian ayahnya. Apalagi, ia masih punya tiga adik yang sudah sekolah semua.

“Ya karena tidak ingin membebani orang tua, sekaligus untuk membantu keuangan keluarga dan untuk keperluan sehari-hari. Lapak ini sebenarnya dulu milik saudara, kemudian dikasihkan ke saya agar bisa menghasilkan uang sendiri,” beber Angga kepada betanews.id, Selasa (24/8/2021).
Baca juga: Meski Hasilnya Tak Tentu, Samsudin Berkeras Telateni Usaha Servis Jok Demi Hidupi Keluarga
Pria yang hanya menamatkan pendidikan di jenjang sekolah dasar (SD) itu memang sudah terbiasa bekerja sedari kecil. Ia memilih tak melanjutkan sekolah karena punya penyakit syaraf di otaknya, lantaran pernah jatuh di masa kecil. Menurutnya, jika dibuat berpikir sedikit saja, ia merasa pusing.
Untuk mengisi hari-harinya, Angga bekerja serabutan mulai dari bekerja di konveksi, pemain barong, ikut orang berjualan es degan, jaga permainan di GOR Kudus, dan yang terakhir menjual cilok.
“Aktivitas sehari-hari saat ini berjualan cilok sampai sore. Setelah itu, pukul 16.00 WIB jagain permainan di GOR Kudus sampai pukul 22.00 WIB. Di saat ada tawaran seni barong saya juga ikut bergabung,” katanya.
Baca juga: Enggan Bebani Anak, Mbah Harsono Tetap Semangat Jadi Tukang Sol Sepatu di Pinggir Jalan
Dia menjelaskan, jual yang dijualnya itu harganya terjangkau. Satu bijinya ia hargai hanya Rp 500 saja. Menurutnya, semua kalangan masyarakat menyukai jajanan yang satu ini, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Dalam sehari, ia bisa menjual hingga 500 biji cilok jika ramai, dan jika sepi terjual sebanyak 200 biji saja.
“Harapan ke depannya semoga usaha ini bisa semakin berkembang dan lebih maju,” uajarnya mengakhiri.
Editor: Ahmad Muhlisin

