BETANEWS.ID, SEMARANG – Penjual hewan kurban di Pasar Kambing Semarang mengeluh karena dagangannya belum ada yang laku. Menurut para pedaggang, sepinya pembeli hewan kurban dikarenakan pandemi yang membuat waktu untuk jualan dibatasi.
Salah satu penjual di Pasar Kambing, Yadi (60) mengatakan, dia mulai jualan sejak Senin (12/7/2021). Namun, sampai sekarang belum ada kambing yang terjual. Dia sendiri heran, biasanya H-10 Iduladha sudah banyak pembeli yang berdatangan.
“Sepi belum ada yang beli sejak tanggal 12 kemarin,” jelasnya saat ditemui di Pasar Kambing yang berada di tepi Jalan Tentara Pelajar, Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, Rabu (14/2/2021).
Baca juga: Penjualan Hewan Kurban di Semarang Masih Sepi
Menurutnya, sepinya pembeli hewan kurban tahun ini disebabkan karena waktu untuk jualan yang dibatasi. Mulai jam 6 sore jualannya diwajibkan untuk ditutup lantaran adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.
“Ya karena jam 6 sore sudah disuruh tutup, kandang ini harus ditutupi,” ujarnya.
Menurutnya, hal itu membuat orang yang lewat dan pembeli tak mengerti jika terdapat jualan kambing di lokasi tersebut. Saat ini, dia membawa 20 ekor kambing yang dia jual mulai Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. “Semoga saya bisa laris lah,” harapnya.
Untuk itu, dia berharap kepada pemerintah agar tak menutup tempat jualannya agar kambing yang dia bawa ke Pasar Kambing bisa laku. Dia takut, jika jam 6 sore sudah ditutup bakal sepi pembeli.
“Kalau misal, pemerintah jam segini tak usah ditutup untuk jualan. Biar laku,” ucapnya.
Baca juga: Mengacu SE Menag, Berikut Ketentuan Penyembelihan Hewan Kurban Saat Pandemi
Penjual hewan kurban yang lain, Muslih (69) membenarkan jika sampai saat ini pembeli hewan kurban masih sepi. Alasannya sama, yaitu pembatasan waktu untuk jualan hingga jam 6 sore.
“Ini sepi, apalagi kalau malam tak bisa jual,” keluhnya.
Dia mengatakan, jualan kambing merupakan pekerjaan satu-satunya untuk menafkahi keluarga. Sepinya pembeli kambing jelang Iduladha membuatnya jungkir balik. Bahkan, tak jarang dia terpaksa berhutang.
“Pinjam dulu kepada teman untuk menafkahi keluarga,” paparnya mengakhiri.
Editor: Ahmad Muhlisin

