BETANEWS.ID, SOLO – Mendengar laporan tentang kasus Perusakan Makam Umum Cemoro Kembar yang berlokasikan di Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Walikota Solo Gibran Rakabuming melakukan peninjauan ke lokasi, Senin (21/6/2021).
Berdasarkan hasil penelusuran pihak kepolisian, perusakan makam tersebut diduga dilakukan oleh oknum anak-anak didik Rumah Khutab Milah Muhammad.
Gibran datang ditemani Kapolsek Pasar Kliwon, Achmad Riedwan serta Lurah Mojo, Margono. Gibran yang telah melihat beherapa makam yang telah dirusak, mengatakan akan segera memproses tempat belajar tersebut. Menurutnya hal seperti ini tidak bisa dibiarkan karena sangat meresahkan.
Baca juga: Vaksinasi Covid-19 di Solo Mulai Sasar Warga Berusia 18 Tahun ke Atas
“Nanti kita antisipasi, wong ya mereka buka sekolah juga tidak izin, nanti segera kita proses. Nggak bisa dibiarkan seperti ini, apalagi pendidikan ke anak-anak kecil,” tegas Gibran.
Dia mengatakan, akan melakukan pembinaan terhadap pengajar serta anak-anak yang melakukan perusakan makam tersebut. Menurutnya perusakan itu merupakan salah satu bentuk intoleransi yang sudah melampaui batas.
“Ya semua, pengajar termasuk anak-anak di bawah umur juga akan diberikan pembinaan. Udah kurang ajar sekali,” ujarnya.
Gibran menambahkan, akan menutup tempat belajar tersebut. Selain tempat belajar tersebut tidak mempunyai izin, menurut Gibran, sekolah tersebut junga mengajarkan kepada anak-anak tentang hal yang tidak benar.
“Ini sudah ngawur banget. Apalagi melibatkan anak-anak, nanti segera kami proses. Tutup saja, sekolahnya, gurunya nggak bener semua, anak anaknya nggak bener semua nanti akab kami bina,” ucapnya.
Lurah Desa Mojo, Margono menerangkan kejadian tersebut terjadi pada hari Rabu (16/6) pukul 15.00 WIB. Saksi mata, Suparmi yang menyaksikan kejadian tersebut langsung melapor kepada warga setempat.
“Perusakan ini mengakibatkan 12 makam Nasrani rusak sekarang sudah masuk ke rahah kepolisian. Sekolahnya apa kurang tau, laporan ke kita juga tidak ada. Kalau TPA seperti memperdalam agama, usianya sekitar SD paling tua usianya 12 tahunan,” paparnya.
Baca juga: Tak Tahu Adanya Larangan, Pedagang Bermobil dari Luar Solo Masih Banyak yang Berjualan
Margono mengatakan, dikarenakan pelaku masih anak-anak, pihaknya mencari solusi dengan cara kekeluargaan. Pihak “sekolah” juga sudah menyanggupi untuk melakukan perbaikan.
“Kemarin sudah mediasi langsung. Pihak sekolah juga sudah menyanggupi untuk melakukan perbaikan selama satu minggu, dimulai pada hari ini,” tambahnya.
Hingga saat ini pihak Kepolisian masih menyelidiki motif dari kejadian tersebut. Kapolsek Pasar Kliwon, Achmad Riedwan mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan mediasi antara pihak yang dirugikan dengan pelaku atau orang tua pelaku. Mediasi tersebut dihadiri oleh RT dan RW setempat dan sudah menemukan kesepakatan antara kedua belah pihak.
“Hasil pendalaman sementara masih dalam pemeriksaan karena masih dibawa umur jadi kami memanggil pihak wali untuk mendampingi anak tersebut dalam pemeriksaan,” paparnya.
Ia juga menambahkan sementara tempat belajar tersebut akan ditutup. Sesuai dengan SE Walikota yang tidak memperbolehkan pendidikan tatap muka. Ia juga mengatakan pihaknya akan menelusuri lebih lanjut.
Editor: Suwoko

