BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi selatan Jalan Sunan Kudus, tepatnya di depan rumah kembar timur Sungai Gelis, Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus tampak seorang pria tua. Dia terlihat sedanga melayani calon pelanggannya yang sedang memilih aneka lampion. Pria tersebut yakni Sukir (72) kakek sebatang kara yang berjualan lampion setiap jelang Lebaran.
Usai melayani pelanggan, Sukir sudi berbagi cerita hidupnya dengan Betanews.id. Dia mengatakan, hidup sendiri sebab istrinya sudah tidak ada beberapa tahun yang lalu. Sedangkan anak satu – satunya memilih hidup di Kota Ukir, Jepara. Ia mengaku di Kota Kretek tinggal sendirian di bangunan yang ada di depan rumah kembar peninggalan Nitisemito.

Baca juga : Kisah Mbah Min, Kakek 88 Tahun yang Tetap Semangat Jualan Bakso Keliling di Solo
“Saya tinggal sendirian. Saya juga bekerja sebagai penjaga di rumah peninggalan Nitisemito. Setiap jelang Lebaran, saya punya aktivitas tambahan yaitu jualan lampion,” ujar Sukir kepada Betanews.id, Jumat (7/5/2021).
Sukir mengungkapkan, jualan musiman dengan menjajakan lampion setiap jelang Lebaran sudah ia tekuni sejak belasan tahun yang lalu. Tepatnya sejak tahun 2007. Ia mulai berjualan dua pekan sebelum Hari Raya Idul Fitri. Dia mengaku, tidak membikin sendiri aneka lampion yang dijualnya, tapi ia mengambil dari perajin di Jepara.
“Lampion – lampion itu tidak saya yang bikin. Saya disetori perajin Jepara yang kebetulan adalah keponakan sendiri,” bebernya.
Dia mengatakan, menjual aneka model lampion. Ada yang model masjid, mobil, serta kapal. Aneka model lampionnya tersebut dijual mulai harga Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per barangnya. Menurutnya, harga tergantung ukuran serta lampu yang dijadikan penerang pada lampion tersebut.
“Yang harganya Rp 10 ribu itu lampunya pakai lilin. Kalau yang Rp 20 ribu menggunakan lampu LED dan batere elektrik. Sedangkan yang paling diminati itu lampion bentuk kapal,” jelas Sukir.
Dia mengungkapkan, karena ada pandemi, takbir keliling tahun lalu ditiadakan. Hal tersebut jelas berpengaruh terhadap penjualan lampionnya. Dia mengaku, sebelum ada pandemi, dua pekan berjualan ia mampu menjual 500 lampion bahkan lebih. Namun karena ada pandemi, tahun lalu ia hanya mampu menjual sekitar 160 lampion saja.
“Karena ada pandemi, takbir keliling tahun lalu ditiadakan. Akibatnya aku hanya mampu jual 160 lampion saja. Meski tahun ini takbir keliling masih dilarang, saya berharap bisa menjual lampion lebih banyak,” harapnya.
Dia mengaku tidak punya target penjualan, bisa menjual lebih banyak lampion dari tahun kemarin sudah sangat bersyukur.
“Target penjualan tidak ada. Bisa lebih banyak dari tahun kemarin sudah sangat bersyukur. Apalagi ini kan masih pandemi, serta takbir keliling juga ditiadakan. Kalau pinginnya jujur, ya agar bisa menjual lampion kayak waktu sebelum ada corona,” tandasnya.
Baca juga : Kisah Nursidi dan Sujadi, Puluhan Tahun Gantungkan Hidup pada Perahu Eretan di Sungai Wulan
Dia mengatakan, lampion memang identik dengan takbir keliling. Biasanya, lampu lampion digunakan untuk memeriahkan acara di malam Hari Raya Idul Fitri. Sebelum pandemi pembeli lampionnya tidak hanya orang Kudus saja, tapi ada juga orang Demak, serta Pati.
“Bahkan orang lain daerah itu kalau beli langsung banyak, bisa puluhan lampion. Kalau pandemi dan tidak ada takbir keliling yang beli palingan warga Kudus saja,” tutupnya.
Editor : Kholistiono

