BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan orang tampak antre di luar ruangan pengambilan kartu AK 1 atau biasa dikenal sebagai kartu kuning di Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disnakerperinkopukm) Kudus. Di dalam ruangan, tampak beberapa orang menunggu giliran dan duduk di kursi yang disediakan. Setelah lebaran, para pencari kartu kuning di Kudus memang terlihat meningkat drastis.
Kasi Informasi Pasar Kerja dan Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri (IPK-PTKDN) Disnakerperinkopukm Kudus, Evita Dewi mengatakan, setiap habis lebaran, warga Kudus yang membuat kartu kuning meningkat cukup signifikan. Bahkan peningkatannya hingga dua kali lipat dibanding hari-hari biasa.

“Pada masa pandemi warga yang bikin kartu kuning rata-rata sehari itu sekitar 30 sampai 40 orang. Kalau saat ini naik jadi 70 sampai 80 orang sehari,” ujar perempuan yang akrab disapa Dewi kepada Betanews.id, Rabu (19/5/2021).
Baca juga: Catat Tanggal Daftarnya, BLK Kudus Akan Adakan Pelatihan Terakhir di Tahun 2021
Dewi menuturkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi lonjakan pencari kartu kuning di Kudus. Selain momen paska-lebaran, kebetulan bulan ini juga berbarengan dengan kelulusan sekolah. Sehingga para siswa yang baru lulus dan ingin bekerja di perusahaan yang diinginkan, sesegera mungkin mencari kartu kuning.
“Selain paska-lebaran, saat ini juga momen kelulusan sekolah. Sehingga pencari kartu kuning di Kudus meningkat dua kali lipat dari pada hari biasanya,” jelasnya.
Menurutnya, warga Kudus yang membuat kartu kuning saat ini masih didominasi lulusan SMA dan SMK. Kalau lulusan sarjana juga ada, tapi hanya beberapa saja setiap harinya. Sebab, warga yang lulusan SMA sederajat tersebutlah yang biasanya ingin segera kerja di perusahaan tertentu.
“Ya, kebanyakan yang membuat kartu kuning itu lulusan SMA dan SMK,” beber Dewi.
Baca juga: Setelah Kudus, Belasan Kabupaten Antre Dapat Pelatihan Membatik dari BLK Industri Jakarta
Dia berharap, warga Kudus yang membuat kartu kuning agar segera dapat kerjaan. Kalau sudah dapat kerja, bekerjalah dengan rajin, tekun dan jangan mudah bawa perasaan (baper). Serta yang terpenting jangan mudah menyerah.
“Saya berharap mereka cepat dapat kerja. Kalau sudah kerja, kerjanya yang rajin dan jangan mudah baper. Sebab lingkungan kerja itu memang jauh berbeda dari pada lingkungan rumah dan sekolah,” pesan Dewi mengakhiri.
Editor: Ahmad Muhlisin

