BETANEWS.ID, KUDUS – Paska libur lebaran, kasus Covid – 19 di Kabupaten Kudus melonjak sangat drastis. Bahkan saat ini Kudus masuk zona hitam dengan kasus poitif covid tertinggi di Jawa Tengah. Untuk penanggulangannya, Pemerintah Kabupaten Kudus merumuskan beberapa kebijakan, satu di antaranya adalah menutup pasar tiban yang ada di Kudus mulai hari ini, Jumat (28/5/2021).
Namun, kebijakan tersebut dianggap tidak adil dan terasa tebang pilih oleh pedagang pasar tiban. Satu di antaranya adalah Sutamaji (47). Dia mengatakan, penutupan pasar tiban tempatnya mengais rezeki itu sebuah ketidakadilan. Kalau untuk mencegah penyebaran Covid – 19 atau menghindari kerumunan, mal, super market dan pasar yang lebih besar kenapa tidak ditutup.

Baca juga : Pasar Tiban Ditutup, dengan Wajah Sedih Sumi Terpaksa Kemasi Dagangan Pisangnya
“Bagi saya kebijakan menutup pasar tiban ini tidak adil. Kalau mau tutup ya tutup semua. Mal, Pasar Kliwon dan pasar – pasar lainnya yang lebih besar juga harus ditutup,” ujar Sutamaji kepada Betanews.id, Jumat (28/5/2021).
Pria yang sudah berjualan di pasar tiban sejak Desember 2020 itu mengungkapkan, dengan ditutupnya pasar tiban, pemerintah itu malah mempersulit hidup rakyat kecil. Pasar tiban pedagangnya juga tidak terlalu banyak. Kalau masalah kerumunan, kerumunan di pasar yang lebih besar, mal, swalayan itu malah lebih parah.
“Dengan ditutupnya pasar tiban ini kami merasa dirugikan. Kami tidak punya penghasilan. Oke lah kalau tidak boleh berjualan tapi setidaknya pemerintah memberikan bantuan. Kami tidak boleh jualan tapi tidak ada bantuan, padahal berjualan ini penghasilan satu – satunya untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” beber warga Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
“Saya berharap pasar tiban secepatnya dibuka. Setidaknya kami diperbolehkan berjualan lagi tapi dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Itu akan jauh lebih baik,” harapnya.
Baca juga : RS di Kudus Overload, Beberapa Pasien Covid-19 Dirujuk ke Semarang
Terpisah Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti mengatakan, dalam penanggulangan melonjaknya kasus covid – 19, pihaknya belum ada wacana menutup mal serta pasar swalayan yang ada di Kudus. Sebab kata dia, mall dan pasar swalayan menerapkan protokol kesehatan ketat. Pengunjung juga tidak melebihi batas.
“Belum ada wacana penutupan mal. Karena selama ini mal menerapkan protokol kesehatan. Pengunjung juga tidak melebihi kapasitas karena habis lebaran. Kalau sampai melanggar protokol kesehatan akan dikaji lebih lanjut,” ungkapnya.
Editor : Kholistiono

