BETANEWS.ID, SEMARANG – Jembatan Bendonsari yang ambrol sejak empat bulan yang lalu belum diperbaiki pemerintah. Menyikapi hal itu, warga Kalialang Lama dan Bendansari akhirnya iuran membuat jembatan bambu.
Jembatan tersebut merupakan jembatan penghubung antara Kampung Kalialang di Kelurahan Sukorejo dengan Kampung Bendosari di Kelurahan Sadeng. Sejak akses terputus, warga yang menggunakan kendaraan bermotor terpaksa harus memutar lewat Perum Greenwood, memakan waktu sekitar 10 menit. Bahkan, sebelum membangun jembatan bambu itu warga terpaksa menggunakan tangga untuk melintas di jembatan itu.
Salah satu pengendara, Jumadi (35) mengaku sempat takut ketika melintas di jembatan bambu itu. Selain harus menanjak, jika tak berhati-hati ketika melawati jembatan tersebut pengendara bisa celaka.
Baca juga: Jembatan Ambrol, Warga 2 Desa di Gunungpati Terpaksa Pakai Tangga untuk Keluar Masuk Desa
“Sebelumnya warga yang jalan kaki bisa dengan memakai tangga namun untuk yang menggunakan sepeda motor maupun mobil harus memutar arah yang jaraknya sekitar 5 kilometer,” ujarnya, Jumat (21/5/2021).
Pembuatan jembatan bambu merupakan respon dari warga sekitar yang berasal dari Desa Kalialang dan Bendansari. Tanpa jembatan bambu itu aktivitas warga terganggu karena harus memanjat tangga yang cukup berbahaya.
“Jembatan bambu itu kita sambungkan ke jembatan yang rusak itu,” ujarnya.
Meski terbilang beresiko, dengan jembatan bambu itu kini warga tak lagi menggunakan tangga untuk keluar masuk desa. Selain itu, warga yang menggunakan sepeda motor juga bisa melintas di jembatan bambu tersebut.
“Kalau dihitung jembatan itu baru dibangun 2 minggu yang lalu. Kini alhamdulilah sudah bisa digunakan untuk sepeda motor.
Sebelumnya, Ketua RT Kalialang Lama RT 1 RW 1 Kalialang Lama, Sri Anaroh mengatakan, warga terpaksa menggunakan tangga untuk pergi bekerja atau berkunjung ke tetangga desa.
Baca juga: Revitalisati Kota Lama Semarang Tuai Kritik, Dinilai Abaikan Prinsip Konservasi
“Kemarin saja sudah ada tiga kali orang meninggal di sini yang terpaksa harus pakai ambulan. Padahal kuburannya samping jembatan, tapi harus memutar karena jembatan rusak,” ujarnya.
Dia berharap, pemerintah segera memperbaiki jembatan yang menghubungkan Desa Kalialang dan Desa Bendansari itu. Pasalnya, banyak warga yang terganggu aktivitasnya.
“Bahkan untuk membangun rumah sekarang susah. Bahan materialnya harus memutar melalui desa lain. Jadi lebih jauh,” katanya.
Meski begitu, dia bersyukur karena musibah itu tak menelan korban jiwa. Hanya saja ada satu keluarga yang harus pindah karena tempat tinggalnya tepat berada di samping jembatan yang sedang ambruk.
“Ada satu warga, dulu jual bakso di sini. Akhirnya harus pindah,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

