BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerhati budaya Kota Semarang yang tergabung Seraya, Roda Gila dan Kelab Kelip Bersaudara mengkritik revitalisasi Kota Lama Semarang.
Mereka mempermasalahkan pendekatan ‘pelestarian’ yang dilakukan oleh pemerintah kota yang sering dianggap sebagai praktik beautifikasi yang minim kajian dan tidak bermutu.

Baca juga : Viral Banner Berisi Informasi Hoaks di Kota Lama, Pegiat Cagar Budaya Sebut Itu Bentuk Protes
“Keterbatasan masyarakat untuk terlibat dalam pengambilan keputusan mengenai pembangunan di Kota Lama bisa jadi karena kurang berfungsinya badan pengelola yang sudah dibentuk sejak tahun 2007,” jelas perwakilan dari Seraya, Anantasia Dwirahmi, Jumat (30/4/2021).
Beberapa tahun belakangan, ada sebuah komentar yang sering beredar mengenai Kota Lama Semarang yang kurang lebih berbunyi “Kota Lama sekarang bagus sekali, ya!”
Padahal, katanya, kritik sudah datang dari berbagai pihak, mulai dari akademisi, seniman, aktivis atau pemerhati cagar budaya, hingga pemilik gedung terkait Revitalisasi Kota Lama Semarang.
“Biasanya mereka menggunakan media sosial untuk menyampaikan pendapatnya, tapi tidak jarang juga yang menyampaikan langsung dalam forum,” ujarnya.
Menurutnya, siapapun dan apapun caranya, pada dasarnya banyak pihak yang mempermasalahkan pendekatan ‘pelestarian’ yang dilakukan oleh pemerintah kota yang sering dianggap sebagai praktik beautifikasi yang minim kajian dan tidak bermutu.
Sayangnya, sedikit dari kritik tersebut yang ditanggapi dan banyak yang dianggap kontraproduktif,” imbuhnya.
Baca juga : Resmikan Creative Hub Kota Lama, Sandiaga Uno: ‘Ini Bisa Jadi Simpul Ekonomi dan Wisata’
Dia menyebut, tampilan Kota Lama saat ini adalah hasil proyek revitalisasi yang didanai oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sejak tahun 2017.
“Pekerjaan utama dari proyek ini adalah perbaikan infrastruktur dan fasilitas umum di Kota Lama yang menurut beberapa pengamat pelestarian dilakukan tanpa mengindahkan prinsip konservasi,” ujarnya.
Editor : Kholistiono

