BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah memutuskan untuk melarang mudik pada libur Hari Raya Idul Fitri tahun 2021. Pemerintah berdalih dengan dilarangnya mudik, maka tak akan ada lonjakan pandemi Covid-19. Hal itu direspon dengan keberatan oleh pemilik usaha transportasi darat.
Satu di antaranya adalah Perusahaan Otobus (PO) Haryanto. Saat ditemui di Kantor Garasi PO Haryanto yang berada di tepi Jalan Lingkar Timur, Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Bae, Kudus, Haji Haryanto menyampaikan keberatan dengan pelarangan mudik Lebaran tahun 2021.

Baca juga : Ternyata Ini Filosofi Gambar Menara Kudus pada Setiap Bus Haryanto
Menurutnya, kondisi pandemi yang berlangsung sekitar setahun ini sudah membuat banyak pengusaha transportasi merugi. Bahkan banyak juga yang gulung tikar karena sepi penumpang. Dengan dilarangnya para perantau mudik, otomatis hal itu akan membuat para pengusaha transportasi makin hancur.
“Kami berharap keputusan larangan mudik itu untuk dipertimbangkan kembali. Sebab, para pelaku usaha transportasi, termasuk transportasi darat sudah babak belur karena sepi penumpang akibat pandemi. Bahkan bila ibarat menangis, air mata para pengusaha otobus itu sudah kering, karena keadaan sulit ini,” ujar Haryanto kepada Betanews.id, Jumat (2/4/2021).
Haryanto mengungkapkan, sebenarnya selama pandemi banyak perusahaan otobus antarkota antarprovinsi (AKAP) di Indonesia yang bangkrut. Menurutnya, ada sekitar 75 persen yang bangkrut dan sisanya masih bertahan. Meskipun perusahaan yang bertahan itu juga banyak yang kesulitan ekonomi.
“Yang paling terdampak lagi itu pengusaha otobus khusus wisata. Ada sekitar 95 persen yang gulung tikar. Sebab selama pandemi, tempat wisata ditutup beberapa bulan. Sehingga banyak yang rugi dan bangkrut, karena tidak ada order carteran,” bebernya.
Purnawirawan TNI Angkatan Darat itu menuturkan, selama pandemi perusahaan otobus sangat memprihatinkan. Bahkan mereka banyak yang harus jual aset bus untuk menambal kerugian, serta untuk membayar hutang. Ia pun mengaku, beberapa kali membeli armada perusahaan otobus lain yang merugi akibat pandemi.
Menurutnya, pembelian itu adalah bagian dari menolong para rekan sesama pengusaha otobus. Sebab, selama pandemi, jual armada bus tidaklah mudah. Orang pasti enggan untuk membeli bus, dalam kondisi sulit seperti ini. Sebab, selama pamdemi penumpang sepi, dan para pengusaha banyak yang memilih menepikan armadanya.
“Ya benar, selama pandemi kami memang menambah 15 unit armada bus. Hal itu kami lakukan untuk menolong rekan pengusaha otobus yang lagi kesulitan ekonomi,” tandas pria yang memulai usaha transportasi dari satu unit angkot bekas tersebut.
Meskipun dilarang, dia mengira masih banyak warga yang akan mudik ke kampung halamannya. Sebab kata dia, mudik Lebaran merupakan tradisi orang Islam, yang berlangsung setahun sekali. Oleh sebab itu, warga akan tetap mudik, dan cari cara bagaimana mereka bisa pulang kampung ke halamannya.
“Justru ini nanti yang bahaya. Saat perusahaan otobus dilarang beroperasi, warga pasti akan cari cara untuk mudik. Mereka nanti akan naik truk dan lainnya yang justru bahaya bagi keselamatan para pemudik,” ungkapnya.
Baca juga : Lahir di Keluarga Sederhana, Haryanto Kecil Harus Cari Rumput untuk Ditukar dengan Nasi
Haryanto sendiri mengatakan, tetap akan mengikuti peraturan pemerintah. Namun, ia berharap, keputusan tersebut untuk dikaji ulang. Sebenarnya, tuturnya selama pandemi PO Haryanto juga terkena imbasnya. Sebab, selama pandemi jumlah penumpang turun drastis. Meskipun begitu ia tidak merumahkan atau pun memutus hubungan kerja (PHK) karyawannya.
“Karyawan kami ada dua ribu orang. Alhamdulillah, meski keadaan sulit karena pandemi, PO Haryanto tidak ada pengurangan karyawan. Saya percaya rejeki itu dari Allah, dan Allah akan menghilangkan corona,” tutupnya.
Editor : Kholistiono

