BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebuah rumah produksi di Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, terlihat beberapa wanita tengah sibuk menggoreng kerupuk. Setelah matang, camilan renyah itu kemudian dikumpulkan dalam wadah besar untuk didinginkan. Dalam proses selanjutnya, kerupuk yang sudah dingin kemudian dimasukkan dalam sebuah plastik oleh seorang pria. Pria itu adalah Hasan Fauzi (33), Pemilik Usaha Kerupuk Sadariyah.
Ditemui di sela aktivitasnya, Fauzi menjelaskan, kerupuk sadariyah merupakan camilan jadul berbahan baku singkong, dengan bumbu rempah, serta tepung tapioka. Bahan itu kemudian dicampur dan kemudian digiling untuk dipipihkan. Setelah dikeringkan, barulah bisa digoreng dan dinikmati.

“Gorengnya masih pakai tungku. Sebenarnya bisa pakai kompor gas, tapi saya memilih untuk menggunakan kayu bakar agar rasanya tetap sedap,” jelasnya, Selasa (30/03/2021).
Baca juga: Bikin Nagih, Kacang Bawang Putri 21 Ini Rasanya Gurih dan Empuk
Kerupuk sadariyah ini merupakan bisnis turunan dari ibunya. Fauzi kini mewarisi usaha tersebut setelah memutuskan keluar dari pekerjaanya. Berkat dia juga, usaha tersebut kini berkembang pesat dan kembali melejit dengan bumbu-bumbu yang masih dipertahankan sejak awal produksi.
“Setelah keluar kerja, saya nekat pinjam modal Rp 50 juta dan fokus membranding kripik mulai dari mengubah kemasan hingga mengurus ijin PIRT,” tambahnya.
Dirintis sejak tahun 2010, kini kerupuk sadariyah sudah mempunyai pelanggan dari berbagi daerah, mulai dari Kudus, Jepara, Pati, Malang, Jakarta, Pemalang, dan masih banyak lagi.
“Saya juga menjual kerupuk sadariyah di toko camilan grosiran, restoran, tempat oleh-oleh, dan lain-lain,” beber Fauzi.
Dalam pengemasan kerupuknya, Fauzi mempunyai macam macam ukuran. Mulai dari ukuran 100 gram dengan harga Rp 8 ribu, 150 gram Rp 15 ribu, hingga ukuran grosiran 3 kilogram.
Baca juga: Toping Cokelat Cair di Pisang Nugget Sharmee Ini Bikin Banyak Pelanggan Rela Antre
Lalu untuk proses produksi, biasanya Fauzi membuat kerupuk singkong setiap produksi.
“Setiap bulan saya bisa memproduksi hingga 1 ton singkong. Itu produksi dua sampai tiga kali seminggu, masing-masing 50 kilogram,” ungkapnya.
Fauzi mengaku, berkat bisnis kerupuk sadariyah ini, ia bisa meruap omzet Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per bulannya, dan bisa menjual hingga 3.000 bungkus per bulan.
Editor: Ahmad Muhlisin

