Gunretno (paling kanan) dalam sebuah acara yang diselenggarakan masyarakat Sedulur Sikep. Foto: Ahmad Rosyidi

Keberadaan kelompok masyarakat Sedulur Sikep atau banyak yang menyebutnya Samin, tak bisa dilepas dari sejarah perlawanan Indoensia terhadap penjajah Belanda. Kelompok ini pertama muncul di Blora, Jawa Tengah, dimulai tokoh mereka yakni Samin Surosentiko.

Perlawanan dilakukan terhadap Belanda oleh kelompok Sedulur Sikep tanpa peperangan, melainkan dengan sikap, tindakan, ajaran. Para pengikut Samin yang kemudian disebut Sikep, secara turun-temurun masih menjaga ajaran tersebut hingga sekarang. Kini kelompok masyarakat Sikep sudah menyebar ke sejumlah daerah lain, di antaranya di Bojonegoro, Pati dan Kudus.

Satu di antara pengenganut Sikep yang masih memegang teguh ajaran Samin Surosentiko, yakni Gunretno. Kini dia bersama keluarganya tinggal di Dusun Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Pati. Kepada Betanews.id, dia sudi berbagi penjelasan tentang Sedulur Sikep.

“Ajaran Sedulur Sikep Diawali oleh Raden Kohar (Samin Surosentiko), orang Kediren, Kecamatan Randublatung, Blora. Mbah Samin di tahun 1907 ditanggap Belanda karena menolak membayar pajak,”

Gunretno, Tokoh Sedulur Sikep Sukolilo, Pati

Pria yang sehari-hari mengenakan ikat kepala dan bercelana cingkrang sesuai pakaian adat Sikep itu, menyebut bahwa saat ini sudah cukup banyak masyarakat yang tahu tentang ajaran sedulur sikep. Berbeda dengan dahulu, banyak orang yang menganggap Sedulur Sikep itu orang Samin. Meski begitu, Gunretno tidak menyalahkan, karena Samin Surosentiko juga orang Sikep.

Gunretno menjelaskan, munculnya Sedulur Sikep diawali oleh Raden Kohar, yang kemudian lebih dikenal sebagai Samin Surosentiko. Dia adalah tokoh pejuang yang melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda melalui pembangkangan membayar pajak.

- advertisement -

“Ajaran Sedulur Sikep Diawali oleh Raden Kohar (Samin Surosentiko), orang Kediren, Kecamatan Randublatung, Blora. Mbah Samin di tahun 1907 ditanggap Belanda karena menolak membayar pajak. Karena apa yang jadi perturan Belanda Mbah Samin menolak. Ini sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah,” terang tokoh Sikep itu saat ditemui di kediamannya, beberapa waktu yang lalu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini