Disbudpar Kumpulkan Beberapa Pakar Bahas Kelangsungan Warisan Budaya Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS – Selama pandemi covid-19 masih merebak luas di Kabupaten Kudus, selama itu pula banyak hal yang harus tetap dilestarikan di Kota Kretek ini. Salah satunya berupaya untuk tetap melestarikan warisan budaya nasional, terkhusus di Kudus yang harus tetap digaungkan meskipun dalam lingkaran pandemi covid-19 yang belum tahu kapan akhirnya.

Alhasil, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus pun mengajak beberapa elemen masyarakat mengadakan sarasehan budaya dengan sistem daring dengan tema “Pelestarian Warisan Budaya Nasional di Era Pandemi Covid-19” yang disiarkan langsung dari Resto Saung Rakyat Indah di Desa Gondang Manis, Kecamatan Bae, Kudus, Selasa (16/3/2021).

Beberapa narasumber yang didatangkan adalah Kepala Disbupar Kudus Bergas Catursasi Penanggungan, kemudian seorang Budayawan Mukti Sutarman, Asa Sujatmika dari Djarum Foundation, Saiful Annas Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kudus, dan Mohammad Kanzunnudin dosen UMK.

-Advertisement-

Baca juga: Kampung Budaya Piji Wetan Dilaunching, Bergas: ‘Ini Wujud Nyata Menjaga Kearifan Lokal’

Mengutip dari UU No. 5 tahun 2017 pasal 1, Bergas mengungkapkan bahwa pemajuan kebudayaan adalah upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui Pelindungan, Pengambangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.

Oleh sebab itu, selama ini, pihaknya menyebut bahwa ada banyak kegiatan pemajuan Kebudayaan yang difasilitasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kudus. Yakni mulai dari Pelatihan Kesenian, Sarasehan Budaya, Peringatan Hari Jadi, Pagelaran Seni Budaya, dan Bioskop Keliling.

Sementara itu, Mohammad Kanzunnudin, Dosen UMK mengungkapkan, Kudus memilki beberapa kearifan lokal. Kearifan lokal tersebut, bisa didapatkan secara lisan dalam cerita rakyat, tembang, Setengah lisan dalam tradisi dan ritus-ritus, dan dari non-lisan dalam sesuatu yang bisa dilihat dengan kasat mata seperti gebyok, batik, bordir, dan kuliner.

“Salah satu kearifan lokasl Kudua yang saya temui itu tentang nilai dan fungsi cerita rakyat Sultan Hadirin dan Masjid Wali At Taqwa Loram Kudus Kulon yang sudah terbit dalam sebuah jurnal ilmiah,” katanya saat memberikan materi.

Tidak berbeda jauh, Budayawan Mukti Sutarman juga menjelaskan bahwa Kudus memiliki aneka ragam kearifan lokal yang hingga kini masih hidup. Mulai dari tradisi Dandangan, Buka Luwur Makan Sunan Kudus dan Sunan Muria, Rebo Wekasan, dan lain sebagainya.

“Dari sekian banyaknya kearifan lokal Kudusan yang ditemukan ada yang di satu desa dengan desa lainnya mempunyai esensi kesamaan dalam bentuk ritual, tujuan, dan waktu pelaksanaannya. Pertanyaannya, apa kearifan lokal khas Kudusan yang bisa dijadikan bagian dari budaya Jawa? Mari kita cari dan diskusikan bersama-sama,” katanya saat memberikan materi.

Baca juga: Banyak Generasi Muda Tak Tahu Cagar Budaya Kudus, Disbudpar Galakkan Belajar di Museum

Kemudian Asa Sujatmika, perwakilan dari Djarum Foundation mengungkapkan bahwa dalam apresiai budaya yang berkembang di Kabupaten Kudus, salah satunya ditunjukan dengan adanya Galeri Batik Kudus. Di mana sejak tahun 2011 hingga saat ini, pihaknya menyebut bahwa Djarum Foundation membina kelompok pembatik di Kudus dan manggagas workshop pembinaan dan pelatihan Batik Kudus. Rutin kepada para ibu dan remaja di Kudus.

Sedangkan Saiful Annas, Ketua PWI Kudus berharap agar warga Kudus lebih kuat memanfaatkan media massa untuk mempublikasi kearifan lokal di Kudus.

“Sebab salah satu dasar lahirnya Undang-Undang Pers atau tujuan adanya lembaga sosial dan wahana komunikasi massa atau pers adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan sebagai sarana mengeluarkan pikiran dan pendapat,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER