31 C
Kudus
Senin, Oktober 25, 2021
spot_img
BerandaBudayaKampung Budaya Piji...

Kampung Budaya Piji Wetan Dilaunching, Bergas: ‘Ini Wujud Nyata Menjaga Kearifan Lokal’

BETANEWS.ID, KUDUS – Tampak sebuah taman dengan sejumlah permainan tradisional di Dukuh Piji Wetan, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus. Taman tersebut tak lain adalah Taman Dolanan, yang merupakan bagian dari rangkaian Launching Kampung Budaya Piji Wetan. Suara tawa terdengar dari sejumlah orang yang duduk sambil berdiskusi di sana. Satu di antara mereka adalah Bergas Catursasi Penanggungan. Dirinya berbagi pendapat tentang kegiatan tersebut.

Menurutnya, upaya pemuda dalam menjaga kearifan lokal merupakan kegiatan yang luar biasa. Apa lagi, hal tersebut sudah menjadi aksi nyata, bukan hanya wacana saja. Pria yang akrab disapa Bergas itu meminta, desa-desa lain bisa menggali potensi dan melestarikan budaya lokal peninggalan para leluhur.

Pasar Ampiran yang ada pada saat acara launching Kampung Budaya Piji Wetan. Foto: Ahmad Rosyidi

Baca juga : Wayang Klithik, Warisan Budaya Penanda Berdirinya Desa Wonosoco

- Ads Banner -

“Luar biasa, ini bukan hanya wacana saja tetapi sudah diwujudkan nyata dalam menjaga kearifan lokal. Harapan saya ini bisa di contoh desa-desa yang lain,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus itu kepada betanews.id, Minggu (15/11/2020).

Masih di lokasi yang sama, Muchammad Zaini (35), selaku Ketua Kampung Budaya Dukuh Piji Wetan menjelaskan tentang acara tersebut. Sebelumnya, mereka melakukan penelitian terlebih dahulu, tentang nilai-nilai kearifan lokal di wilayah Muria. Dari penelitian itu, pihaknya menemukan bagaimana cara Sunan Muria dalam menyampaikan sesuatu, sehingga dapat diterima dengan baik.

“Berawal dari nilai di wilayah Muria yang perlu kita lestarikan, kita meneliti tentang itu. Mulai bagaimana aktivitas ajaran Mbah Sunan bisa tersampaikan dengan baik melalui jalur kesenian,” kata pria yang akrab disapa Jessy itu.

Dia juga membeberkan, bahwa keterlibatan warga dalam pelaksanaan kegiatan itu sangat luar biasa, mulai dari anak-anak, pemuda hingga dewasa semua terlibat. Selain mendukung, warga juga memfasilitasi, seperti bambu untuk dekorasi mereka tidak perlu membeli.

“Antusias teman-teman juga luar biasa. Intinya semangat melestarikan budaya. Memperkenalkan permainan-permainan tradisional, ada juga kelas pagi kita mewadahi ruang utuk para pemuda,” jelasnya.

Selain itu juga ada Pasar Ampiran untuk mewadahi ibu-ibu menawarkan dagangannya dan Panggung Ngepringan untuk pentas kesenian. Rencananya, kegiatan semacam itu akan digelar setiap bulan, dengan mempertunjukan pementasan baru di setiap bulannya.

Baca juga : Tak Ada Kirab Budaya, Tradisi Tebokan Jenang Terlaksana Secara Sederhana

“Rencana di setiap Minggu pertama awal bulan, dan ada agenda tahunan juga. Saat ini pemdes sudah bergerak dan mengupayakan untuk mendukung kami. Tetapi untuk sementara anggaran dari hasil hadiah Cerita Budaya Desaku,” ujar Jessy.

Pria yang juga menjadi satu di antara sejumlah pegiat teater di Kudus itu menjelaskan, pihaknya masuk 30 besar dan narasi terbaik dalam lomba Cerita Budaya Desaku yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mereka mendapat uang pembinaan senilai Rp 53 juta, kemudian digunakan untuk modal menggelar launching Desa Budaya itu.

Editor : Kholistiono

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,023PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
62,220PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler