31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Banjir di Desa Jati Wetan Terjang 64 Rumah, Warga Ogah Mengungsi

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa anak kecil terlihat bermain air banjir menggunakan karet ban di Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Sedangkan beberapa perempuan tampak sedang menjemur pakaian sambil mengecek jemuran beberapa hari yang lalu. Akibat banjir tersebut beberapa rumah warga yang terendam.

Kepala Desa Jati Wetan yakni Suyitno mengatakan, akibat dari hujan setiap hari dengan intensitas tinggi mengakibatkan banjir di beberapa wilayah desanya. Menurutnya, sampai saat ini ada tiga dukuh yang sudah terendam banjir, yang kesemuanya termasuk dalam wilayah RW 3.

Anak-anak tampak bermain pelampung air di genangan air yang membanjiri rumah warga, Kamis (10/12/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Ada tiga dukuh yang sudah terendam banjir yaitu Dukuh Barisan, Dukuh Tanggulangin, dan Dukuh Gendok,” ujar Suyitno kepada Betanews.id, Kamis (10/12/2020).

-Advertisement-

Baca juga: 600 Rumah di Desa Mejobo Terendam Banjir

Dia mengatakan, dari ketiga dukuh itu ada sekitar 64 rumah yang terendam banjir. Dengan rincian Dukuh Barisan ada dua rumah, Dukuh Tanggulangin ada 46 rumah serta di Dukuh Gendok ada 16 rumah. Menurutnya, kedalaman air antara 15 sampai 60 sentimeter. Sampai saat ini belum ada warga yang mengungsi.

Lebi lanjut kata dia, Selama 13 tahun menjabat Kepala Desa Jati Wetan, setiap tahun pasti ada wilayah yang kebanjiran dan  pasti ada warga yang mengungsi. Kecuali pada 2018 dan 2019 tidak ada yang mengungsi sebab curah hujan rendah dan banjirnya tidak dalam.

“Untuk banjir kali ini, sampai saat ini belum ada yang mengungsi. Kami sebagai pemerintah desa sudah menyiapkan tempat pengungsian lengkap dengan logistik dan sarana maupun pra sarana lainnya,” ungkapnya.

Dia menuturkan, banjir yang terjadi merupakan banjir langganan setiap musim hujan datang. Selain curah hujan yang tinggi, hujan tersebut juga diakibatkan debit air Sungai Wulan yang tinggi. Sehingga pintu air yang harusnya mengalir ke Sungai Wulan tidak bisa mengalir dan tertahan di pintu air sungai.

“Setiap curah hujan tinggi dan debit air Sungai Wulan tinggi pasti banjir. Sebab setiap air Sungai Wulan tinggi otomatis pintu airnya ditutup, sehingga airnya tertahan dan meluap ke pemukiman. Kalau pintu air dibuka malah nanti air di Sungai Wulan akan membanjiri pemukiman warga,” bebernya.

Baca juga: Banjir Mejobo Sebabkan Lalu Lintas Tersendat, Banyak Kendaraan Mogok

Selama ini, lanjutnya, untuk mencegah terjadinya banjir sudah disediakan pompa air. Namun, sayangnya pompa airnya hanya ada satu unit, sehingga kurang memadai untuk menyedot habis air banjir.

Satu di antara warga yang kebanjiran yakni Karminah mengatakan, banjir melanda di dukuhnya sudah terjadi tiga hari ini. Namun, air masuk rumahnya itu sejak tadi malam. Saat ini air yang masuk ke dalam rumahnya sekitar 20 sentimeter. Menurutnya, banjir yang melanda dukuhnya itu terjadi setiap musim jadi sudah terbiasa.

Saat disinggung untuk mengungsi, dia mengaku belum memikirkannya, sebab debit air banjir masih rendah. Dia juga masih bisa beraktivitas seperti biasa meski rumahnya kebanjiran. Dia berharap, hujan tak lagi turun sehingga banjir akan surut.

“Semoga tidak hujan lagi biar banjir lekas surut. Sebab banjir di sini itu lama surutnya. Selain tergantung sama curah hujan juga tergantung debit air Sungai Wulan,” tutup Karminah.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER