31 C
Kudus
Selasa, Januari 26, 2021
Beranda Kisah Tolak Gaji Rp...

Tolak Gaji Rp 25 Juta Per Bulan di Jepang, Safuan Pilih Rintis Usaha Produksi Pupuk Organik

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pria tampak sedang sibuk di sebuah pekarangan di Dukuh Bonajar RT 2 RW 6, Desa Puyoh, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Mereka terlihat sedang memasukkan pupuk organik ke dalam sebuah karung. Di antara mereka, terlihat satu pria sedang mengangkati pupuk organik yang sudah dikemas dalam karung ke atas bak mobil. Pria tersebut yakni Safuan Noor (25) pemilik usaha Dua Koma Lima Farm.

Seusai melakukan kegiatannya, pria yang akrab disapa Safuan itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, mulai merintis usaha produksi pupuk organik bernama Dua Koma Lima Farm itu sejak tahun 2016. Usahanya itu awalnya dirintis di Solo, sebab saat itu ia masih kuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS) jurusan peternakan.

Proses pembuatan pupuk organik Dua Koma Lima. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : Tak Ingin Ratapi Nasib Karena Gagal Ginjal, Aan Bangkitkan Semangat dengan Rintis Usaha Kue Cubit

“Setelah lulus kuliah, usaha itu saya tinggal magang kerja ke Jepang di pertanian jamur. Sedangkan usaha pupuk organik itu kemudian dijalankan oleh temanku. Di Jepang saya magang selama 10 bulan,” ujar Safuan kepada Betanews.id, Senin (23/11/2020).

Pria yang sudah dikaruniai satu anak itu mengatakan, magang di Jepang gajinya lumayan, sebulan bisa sampai Rp 20 juta sampai Rp 25 juta. Setelah 10 bulan, sebenarnya ia ditawari perpanjangan magang, tapi ia tolak. Sebab dia ingin berwirausaha di kampung halamannya melanjutkan usaha produksi pupuk organik.

“Sesampai di Indonesia dengan modal magang dari Jepang, saya mulai merintis usaha produksi pupuk organik di desa kelahiran saya. Usaha yang di Solo juga tetap masih jalan dan masih dihandel oleh teman saya,” ungkapnya.

Dia mengatakan, memilih merintis usaha di desanya itu, sebab ia ingin jadi orang yang bermanfaat di kampung halamannya. Di sisi lain dia juga ingin memanfaatkan limbah kotoran ternak milik tetangganya jadi pupuk organik. Agar limbah kotoran ternak itu tidak mencemari lingkungan, sekaligus ia juga bisa memberi lapangan kerja untuk para tetangganya.

“Selama ini bahan dasar pupuk organik memang saya ambil dari kotoran ternak para tetangga. Kebetulan tetangga saya banyak yang punya ternak. Kotoran itu saya ambil dan biasanya saya kasih uang terima kasih untuk para peternak,” ungkapnya.

Dia menuturkan, memproduksi pupuk organik dengan bahan dasar kotoran ternak milik tetangganya. Di antaranya sapi, kerbau dan kambing. Menurutnya, dari kotoran ternak itu diproses, dikomposisi dengan tambahan dikomposer racikannya sendiri.

Baca juga : Woto, Mantan Pekerja Proyek yang Sukses jadi Penyuplai Tanaman Hias

Pupuk organik Dua Koma Lima tuturnya, dijual dengan harga Rp 5 ribu untuk kemasan plastik. Sedangkan yang kemasan karung dijualnya dengan harga Rp 15 ribu. Dia berharap ke depan usahanya bisa makin berkembang dan besar.

“Semoga usaha saya makin berkembang dan besar. Pupuk organik makin diminati oleh masyarakat luas. Sehingga otomatis akan menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi. harap Safuan.

Editor : Kholistiono

Tinggalkan Balasan

27,870FansSuka
14,114PengikutMengikuti
4,311PengikutMengikuti
27,373PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler