31 C
Kudus
Rabu, September 22, 2021
spot_img
BerandaKisahWoto, Mantan Pekerja...

Woto, Mantan Pekerja Proyek yang Sukses jadi Penyuplai Tanaman Hias

BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebelah utara Pasar Pon, Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus tampak sebuah truk terparkir. Truk yang terparkir di depan Pondok Bunga Cemara itu tampak penuh berisi aneka jenis tanaman hias. Beberapa pria terlihat sibuk menurunkan ribuan tanaman hias tersebut. Tak jauh dari mereka tampak seorang pria sedang sibuk dengan handphone jadulnya. Pria tersebut yakni Suwoto (50) pemilik Pondok Bunga Cemara.

Di sela kesibukannya, pria paruh baya tersebut rela berbagi kisah tentang usahanya. Dia menuturkan, mulai merintis usaha tanaman hias sejak 2005. Sebelum menekuni usahanya sekarang, sebelumnya dia mengaku sebagai perantauan pekerja proyek selama 20 tahun. Menurutnya, ide usaha tanaman hias itu juga tidak terlepas dari pekerjaannya tersebut. Sebab setiap dapat pekerjaan proyek, lokasinya selalu dekat sama petani tanaman hias.

Aktivitas di Pondok Bunga Cemara. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : Janda Bolong Laris Manis di Pasaran, Woto Kewalahan Penuhi Pesanan Pelanggan

- Ads Banner -

“Dulu itu proyek tempat saya bekerja sering dekat dengan kebun petani tanaman hias. Sehingga, setiap sore selesai bekerja saya sering main ke kebun tersebut. Dari situ saya mulai suka dengan tanaman hias. Di situ pula saya juga sering lihat orang yang datang beli tanaman hias. Saya kemudian berpikir, enak juga ya usaha tanaman hias. Santai, pembeli berdatangan,” ujar pria yang akrab disapa Woto kepada betanews.id, Sabtu (10/10/2020).

Pria warga Desa Karang Nongko, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara itu mengatakan, karena tertarik dengan usaha tanaman hias tersebut, ia pun membeli satu tanaman jenis anthurium dengan harga Rp 25 ribu, untuk dibawa pulang ke Jepara. Ternyata sampai rumah tanaman tersebut ditawar orang dan laku Rp 150 ribu.

Melihat keuntungannya, dia pun membelikan semua uang tersebut tanaman serupa dan dapat beberapa tanaman. Namun, setiap sampai rumah pasti langsung laku terjual dengan harga yang lebih tinggi. Hal itu berjalan hingga satu tahun. Sampai nominal belanjanya sudah sekitar Rp 150 juta. Tapi, setelah ia belanja dengan nominal sebesar itu, tanaman anthurium langsung tidak laku. Semua pemain anthurium rugi semua, tak terkecuali dirinya.

“Saat itu saya memang rugi ratusan juta, tapi saya kan mulai bisnis tanaman hias itu dari modal Rp 25 ribu. Ya ibaratnya berawal dari nol kembali ke nol lagi,” celetuknya sambil tersenyum.

Usai rugi ratusan juta, lanjutnya, Woto kehabisan modal dan memutuskan kembali kerja di proyek. Ia mengaku murni kerja proyek tidak lama. Karena kecintaannya pada tanaman hias, ia pun nyambi, selain kerja proyek juga jualan tanaman hias. Berbeda dengan tanaman hias yang dijual sebelumnya. Kali ini yang dijualnya aneka jenis tanaman hias untuk taman.

“Dua tahun, saya nyambi kerja proyek dan jualan aneka jenis tanaman hias. Setelah pelanggan saya sudah banyak. Saya memutuskan untuk fokus menekuni usaha tanaman hias lagi,” ujar pria yang sudah dikaruniai tiga anak tersebut.

Dia mengatakan, Pondok Bunga Cemara menyediakan aneka jenis tanaman hias. Di antaranya, agloenema, janda bolong, monstera, anthurium, pakis helm, sapirna, puring, sansivera, bromelia, brokoli, palem, beringin putih, bonsai anting putri, bougenvile, pandan Bali, dan masih banyak aneka jenis tanaman hias lainnya.

“Di Pondok Bunga Cemara itu lengkap jenis tanaman hiasnya. Bahkan saya itu bisa dibilang penyuplai tanaman hias ke seluruh bakul di Kudus dan wilayah sekitarnya, serta Kalimantan. Hanya satu pondok tanaman hias di Kudus yang tidak saya suplai tanaman. Lainnya saya semua yang nyuplai,” bebernya.

Baca juga : Tak Patah Semangat Berkali-kali Bangkrut, Ardi Temukan Kesuksesan di Resto Ulam Sari

Dia bersyukur, usaha tanaman hiasnya sudah terlihat hasilnya. Dari usaha tersebut ia bisa mencukupi keluarga, menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Masih ada tabungan hari tua dan lainnya.

“Semoga saja usaha tanaman hias ini bisa berkembang dan maju lagi. Saya berharap usaha saya bisa makin sukses, serta bisa buka cabang di Kudus dan Kalimantan,” tutup pria yang mengenakan topi hitam tersebut.

Editor : Kholistiono

Lipsus 7 - Sejarah Kereta Api Pertama di Indonesia dan Reaktivasi Jalur Semarang-Lasem

Tinggalkan Balasan

30,414FansSuka
14,922PengikutMengikuti
4,321PengikutMengikuti
52,135PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler